Berbincang di Kios Lukisan S. Wito

Namanya S.Wito. Cukup aneh jika kita baru pertama kali membaca namanya. “Sebenarnya, nama saya Suwito. Tapi, biar kelihatan lebih singkat, jadi S. Wito sajalah,” kata dia diiringi tawa.


S. Wito merupakan pelukis yang sehari-hari memamerkan lukisannya di trotoar Jalan Pasar Baru Selatan, persis di seberang Gedung Kesenian Jakarta. S. Wito tidak sendiri. Di sini ada sekitar 20 kios lukisan yang berjajar. Di setiap kios terdapat plat bernomor, sesuai urutan kios.


Tak sulit menemukan kios lukis S. Wito. Di depan kios ini, terdapat lukisan karikatur Megawati sedang memainkan wayang golek berwajah Joko Widodo. Selebihnya, S. Wito memasang karikatur jenaka Prabowo Subianto dan Aburizal Bakrie.


Saya bertemu S. Wito pertama kali pada awal April 2014. Ketika itu, bersama kawan fotografer Andrey Gromico melakukan tugas peliputan ke kiosnya, saat saya masih bekerja di sebuah perusahaan media. Kebetulan saat itu sedang marak sekali soal calon presiden. Sejumlah pelukis pun berlomba membuat karakter capres.

Sudut lain kios lukisan di Pasa Baru (Foto: Fandy Hutari)

Lukisan S. Wito yang menggambarkan Mega memainkan wayang golek Jokowi tak luput dari perhatian media, termasuk media kami. “Saya sengaja buat ini. Sebab, kan Jokowi sudah seperti boneka saja. Dia terima mandat dari Mega. Saya membuat ini setelah Jokowi menerima mandat itu,” kata S. Wito saat itu. Tulisan soal Mega mainkan wayang golek Jokowi bisa dibaca di Geotimes.


Setelah wawancara tadi, sempat beberapa kali saya berjumpa dengan S. Wito di acara pameran lukisan bersama di Taman Ismail Marzuki. Lukisan S. Wito kerap mengisi ruang pamer, saat ada pameran bersama beberapa pelukis. Saya waktu itu memang sering meliput pameran seni rupa.


Bisa dibilang lukisan S. Wito khas. Dia kerap menggambarkan apa yang dekat dengan kita dan momen nasional yang hangat di media massa. Jika kita masuk ke dalam kiosnya yang berukuran kira-kira 3 x 4 meter, ada lukisan wajah tokoh terpajang, contohnya Rano Karno yang dia buat dengan sketsa pensil.


“Saya sekarang sedang mengerjakan lukisan Jokowi. Untuk pelantikan tanggal 20 (Oktober) mendatang,” katanya sewaktu kami berjumpa kembali pertengahan Oktober. S. Wito masih ramah seperti dulu. Sesekali, pelukis jenaka ini menegur beberapa orang yang lewat depan kiosnya.


Dia total memilih menjadi pelukis pada 1989. “Sebelumnya, saya kerja serabutan,” kata dia. S. Wito belajar melukis secara otodidak. Di sini, dia menjadi Ketua Pelukis dan Penulis Indah. Sore itu, kami berbincang banyak hal. Soal politik, pekerjaan, dan kehidupan. Hilir mudik kendaraan tak membuat kami terputus dalam berbincang. Suara alunan musik dari speaker radio menemani kami berbincang.

Suasana kios lukisan di Pasar Baru (Foto: Fandy Hutari)

 
Konon, pria berusia 47 tahun yang tinggal di Cempaka Putih, Jakarta Pusat ini mendapat pengarahan dari maestro lukis Basuki Abdullah. Dia juga dipercaya beberapa pejabat tinggi negara untuk dilukiskan. Topi khasnya selalu menempel di kepala.


Saya mendapat nasihat soal pilihan hidup. “Burung dan ayam aja hidup cuma dibekali paruh dan ceker. Masa kita nggak bisa hidup dibekali Tuhan dengan kemampuan,” kata dia. S. Wito pernah merasakan masa-masa pahit kala berjuang dengan idealismenya sebagai pelukis. “Dulu, saya pernah mencoba membayar makan di warteg dengan lukisan. Karena saya tak punya uang. Tapi, penjaga wartegnya bilang, ‘buat apa lukisan nggak bisa dimakan,'” katanya kembali tertawa.


Dua orang tentara memarkir motor tepat di depan kiosnya. S. Wito menyambut mereka ramah. “Tuh, Fan tentara aja sekarang pesan karikatur,” kata dia tertawa.


Sukses Mas S. Wito!

LEAVE A REPLY