Lorong Waktu Perkembangan Teknologi

Ilustrasi/http://primatacah.blogspot.co.id

Kalian yang seusia dengan saya, kelahiran 1980-an, pasti merasakan hal yang sama. Generasi yang masa kecilnya dihabiskan pada 1980-an akhir dan 1990-an, pasti mengalami perkembangan teknologi yang sangat cepat.

Dari kita kecil saja, kita seolah dibawa oleh mesin waktu. Menyusur perkembangan teknologi bak kilat. Generasi yang lahir tahun 1980-an masih memiliki tubuh yang sehat dan memori segar untuk mengingat-ingat perubahan teknologi apa saja yang pernah terjadi.

Saat kita masih kecil, tahun 1990-an, kita pasti tak akan menyangka lesatan teknologi itu sangat cepat.
___

Sewaktu saya SD kelas satu, tahun 1991, saya bermain ke rumah salah seorang teman yang boleh dibilang memiliki keadaan ekonomi lebih baik dari tetangganya, termasuk saya. Di rumah itu, teman saya tersebut baru saja dibelikan sebuah mesin aneh berbentuk kubus.

Di bawah mesin kubus yang ada layarnya, terdapat lagi mesin kotak besar. Lantas, teman memainkan sebuah game, kucing yang mengejar seekor tikus. Sungguh luar biasa.

Teknologi yang saya kisahkan tadi itu komputer. Namun, saya tak bisa mengingat-ingat lebih detail soal komputer yang pernah saya lihat sewaktu kelas 1 SD itu.

Yang ada di ingatan saya, layar monitor berbentuk kotak, ada mesin di bawahnya berbentuk persegi panjang, keyboard, dan sebuah alat penyimpanan data bernama disket yang waktu itu ukurannya besar.

Saat itu, saya tak pernah berpikir, rentang 10 atau 15 tahun kemudian segalanya berubah. Tak pernah terlintas di benak saya, akan muncul teknologi yang lebih canggih, seperti laptop, notebook, tablet, dan sebagainya.

____

Sebelum Google Translate ada, alat ini merupakan teknologi penerjemahan paling praktis/Fandy Hutari

Suatu hari, Om saya datang ke rumah. Tiba-tiba, sebuah alat yang ditempelkan di pinggangnya berbunyi: Tidiit! Tidiit!

“Oh, oke,” begitu kata Om saya. Lantas ia pergi lagi.

Itu setelah ia membaca sebuah pesan dari alat kecil berwarna hitam yang menempel di pinggangnya. Alat canggih—setidaknya di era 1990-an—itu bernama pager (baca: pejer).

Alat ini termasuk alat paling gaul dan peninggi status sosial di tahun 1990-an. Setidaknya sebelum era telepon seluler Nokia 3310 hadir di hadapan kita pada 2000-an.

Namun, menurut saya, alat ini paling absurd. Setiap orang yang memiliki pager, pasti memiliki ID. ID ini semacam nomor panggil kalau di teknologi telepon.

Jika ingin menghubungi pemilik pager, pertama yang dilakukan adalah menelepon operator pagernya. Lalu, sebut ID tujuan. Kemudian, sebut pesan yang akan dikirimkan. Terakhir, sebut siapa nama pengirimnya.

Repot? Iya.

Dan, faktanya alat yang pernah sangat mahal itu hanya bertahan beberapa tahun saja. Perkembangan internet dan telepon seluler menjadi pemicu tergusurnya si kecil nan berisik bernama pager.

___

Alat untuk merekam bagi wartawan. Bisa memutar musik melalui kaset/Fandy Hutari

Sewaktu saya masih SMP, saya masih merasakan teknologi kaset VHS. Bahkan, sewaktu SD, saya ingat di rumah adik kakek, saya disuguhi tontonan film Superman dan Lion Man. Hitam-putih. Pakai kaset Betamax.

VHS adalah format standar pada 1990-an, memiliki durasi rekaman lebih panjang daripada kaset Betamax. Bentuknya persegi panjang. Tebal.

Kemudian, selang beberapa tahun—kalau tidak salah saya masih duduk di bangku SMP juga—saya diajak nonton di rumah tante. Nonton bareng keluarga.

Tante memamerkan kaset video yang besar, namun bentuknya lingkaran pipih. Diameternya hampir 12 inchi. Besar sekali bukan? Saat itu, kami menonton film Titanic. Kalau tak salah ingat, itu tahun 1998.

Lantas, teknologi berkembang. Kaset untuk menonton video menjadi lebih kecil ukurannya, meski masih berbentuk cakram. Namanya VCD, lalu DVD.

Tempat kaset sega/Fandy Hutari

Permainan anak berbasis teknologi pun mengalami kejar-kejaran inovasi. Sewaktu SD, saya masih akrab dengan dingdong. Dengan koin Rp100, bisa main satu game.

Kemudian, masih di rentang SD, muncul gamewatch (baca: jimbot). Saya ingat betul, dahulu ada penyewa gamewatch di depan sekolah saya. Ia membawa banyak gamewatch, yang diikat dengan tali tambang kecil.

Setelah itu muncul nintendo, spica, supernintendo, hingga sega. Tahun-tahun 2000-an, muncul yang lebih canggih lagi, PS1, PS2, PS3, sekarang PS4.

Saya ingat betul, awal saya berkuliah, masih menggunakan disket untuk menyimpan data tugas makalah. Kapasitasnya tak besar. Jadi, saya punya banyak sekali disket di kosan.

Pada 2004, muncul penyimpanan data yang lebih praktis, kecil (berbentuk kapsul agak besar), berkapasitas lebih besar.

Sontak, alat ini populer. Alat itu disebut flash disk. Kalau tidak salah, flash disk pertama yang saya beli hanya berkapasitas 284 MB. Bagi saya saat itu, kapasitas sebesar itu sudah sangat-sangat cukup untuk menyimpan data makalah kuliah.

Generasi kelahiran 1980-an paling merasakan betul perubahan teknologi yang terjadi. Terkadang, lucu saja membayangkan transformasi yang begitu cepat.

LEAVE A REPLY