Memotret Si Tukang Foto

Sore itu, area Monumen Nasional tak begitu ramai pengunjung. Memang, ada beberapa warga Jakarta yang sedang lari sore, atau sekadar duduk-duduk sambil bercengkerama di taman Monas. Namun, sejak sterilisasi dari penarik dokar, pengamen ondel-ondel, pedagang, pengemis, Monas tampak lengang. Jika akhir pekan, mungkin tak selengang ini.


Seorang tukang foto sedang beristirahat, duduk tak jauh dari tugu Monas. Memang, pemandangan yang lumrah sekarang jika kita ke Monas, adalah pemandangan tukang foto. Selain tukang kopi keliling, mungkin tukang foto adalah contoh pengais rezeki yang diizinkan masuk area Monas. Nama pria paruh baya tukang “jepret” sekitaran area Monas itu Joni, 63 tahun. Dari wajahnya, saya tak perlu lagi menebak, dia memang sedang lelah. “Saya sudah (kerja jadi tukang foto di area Monas) sudah 2 tahun,” katanya.


Joni bercerita, dia belajar fotografi secara otodidak dan berdasarkan pengalaman teman-temannya. “(Belajar) sama temen-temen udah lama. Udah sekitar 8 tahunan lah,” ujarnya. Awal pegang kamera, Joni hanya bisa menggunakan kamera saku. “(SLR) bisa. (Teknik) fotografi bisa. Bisa kalo, orang malem bisa terang tuh bisa,” kata dia. Joni mengatakan, sejak handphone kamera mewabah, banyak berpengaruh terhadap profesinya sebagai tukang foto. “Berkurang yang mau foto langsung jadi. Mereka udah pake hp, bisa foto sendiri gitu. Apalagi kalo siang gini. Kalo siang kan hp bisa jelas gitu. Paling kalo malem berkurang (yang foto pakai hp).”


Joni bilang, kalau hari sudah gelap, banyak yang meminta untuk difoto. “Kadang ada yang bawa kamera SLR gitu, nggak bisa moto dia malem. Nggak terang. Hasilnya nggak bagus.” kata bapak 7 orang anak ini. Jasa foto Joni dan teman-temannya ini, hasilnya langsung jadi. “Ada alatnya (mencetak), printer mini. Merek Canon.” Tarif untuk menggunakan jasa foto Joni hanya 15 ribu per lembar. Ditanya soal penghasilan, Joni agak kikuk. “Itu nggak tentu mas. Kalo lagi rame bisa 150 ribu. Kalo lagi sepi paling 100 ribu atau 50 ribu,” kata pria bertopi hijau ini.


Dahulu, sebelum terjun bebas menjadi tukang foto, Joni berdagang. Namun, akhirnya 2 tahun lalu, dia memilih profesi tukang foto, karena alasan yang klasik, “Nggak diuber-uber sama Satpol PP.” Tukang foto di area Monas bercirikan seragam rompi warna biru gelap. Menurutnya, rompi yang mereka pakai adalah seragam resmi tukang foto di area Monas, dan sudah disahkan oleh pihak pengelola Monas. Jika dihitung, mungkin ada sekitar 50 orang tukang foto berseragam seperti yang Joni pakai di area Monas. Joni mengaku, setiap bulan dia mesti menyetor uang sebesar 15 ribu kepada ketua tukang foto di Monas.“Nyetor ke ketua saya sih. Nggak tau uang apa,” kata dia.


Modal untuk menjadi tukang foto, terbilang lumayan mahal. “Kalo kertas satu rol 120 ribu. Printer 1,2 juta. Kamera 1,1 juta. Ini alat semua sendiri.” Masalahnya, Joni tak pernah merawat kameranya. Dia hanya pasrah, kalau sewaktu-waktu kameranya rusak. Sebagai seorang juru foto, apa foto terbaik Joni yang dia banggakan? “Ada di rumah (fotonya). (Foto) yang di pantai-pantai gitu. Kaya Borobudur,” katanya ngelantur.

LEAVE A REPLY