Rengkong, Seni Masyarakat Agraris

Rengkong/Fandy Hutari
Tidak dapat dipungkiri, Indonesia adalah negeri agraris. Bukti kalau Indonesia adalah negeri agraris tidak hanya dapat dilihat dari pentingnya sektor pertanian menopang kehidupan ekonomi warganya dan kekayaan alam yang melimpah, tetapi juga dari karya seni tradisional yang dilestarikan masyarakatnya.Mayoritas seni tradisi lahir dari masyarakat agraris dan yang terbiasa melakukan interaksi dengan alam sekitar. Semisal kesenian kuda renggong. Ia tercipta dari interaksi manusia dengan seekor kuda. Penciptanya Ki Sipan berprofesi sebagai seorang pengurus kuda milik pamong praja dan bangsawan Sumedang.


Pada 1910, Ki Sipan yang tengah memandikan kuda-kuda “titipan” ini melihat seekor kuda bergoyang dengan kaki melintang. Tidak tinggal diam, ia lalu mengiringinya dengan angklung dan musik perkusi dogdog. Ini lah awal mula kesenian Kuda Renggong.Begitu pula dengan seni tradisi rengkong. Rengkong mencerminkan kultur agraria dalam struktur bentuknya. Rengkong merupakan salah satu kesenian tradisional yang diwariskan oleh leluhur masyarakat Sunda. Kesenian ini muncul sekitar tahun 1964 di Kabupaten Cianjur. Orang yang pertama kali memperkenalkannya adalah H. Sopjan. Bentuk kesenian ini dikenal dari tata cara masyarakat Sunda dahulu, ketika menanam padi sampai dengan menuainya. Pada saat itu, belum ada alat transportasi untuk mengangkut padi ke lumbung.

Para petani menggunakan bambu sebagai alat pikul padi. Pikulan yang membawa berat beban kurang lebih 10 sampai 20 kilogram ini diikat dengan tali ijuk. Setiap berjalan, pikulan ini menghasilkan bunyi, yang dihasilkan dari pergesekan tali ijuk dengan pikulan. Dari sini kesenian rengkong bermula. Istilah rengkong sendiri diambil dari alat untuk memikul padi dari sawah ke lumbung.


Media rengkong
Peralatan untuk memainkan seni rengkong terbilang sederhana. Terdiri dari bambu gombong, tali ijuk, minyak tanah, dan satu himpitan tangkai padi. Bambu gombong berfungsi sebagai pikulan. Tali ijuk berfungsi sebagai pengikat padi yang digantung pada pikulan. Padi, yang kisaran beratnya 10-20 kg sebagai beban pikul. Sedangkan minyak tanah fungsinya sebagai pengesat gesekan antara tali dan pikulan untuk menghasilkan suara yang keras. Dogdog dan angklung buncis merupakan peralatan lainnya sebagai pengiring. Hatong juga lazim digunakan sebagai instrumen pembantu. Hatong merupakan alat tiup yang terbuat dari bambu. Suara yang dihasilkan rengkong sangat khas, menyerupai suara katak.Pemain rengkong biasanya menggunakan celana pangsi, baju kampret, ikat kepala, dan tanpa alas kaki. Pemainnya berjumlah 5 atau 6 orang dengan durasi bermain selama satu jam. Pertunjukan rengkong selalu dilakukan di alam terbuka. Cara memainkannya, pikulan yang berisi padi diletakkan di bahu kanan. Si pemikul mengayun-ayunkan ke kiri dan ke kanan dengan teratur. Tali ijuk dengan beban padi yang menggantung pada badan bambu rengkong pun bergerak-gerak, gesekan tali ijuk yang keras inilah yang menimbulkan suara. Jika diamati, kesenian ini memang sangat khas keseharian petani desa.


Fungsi rengkong
Awalnya, rengkong digunakan sebagai “alat transportasi” untuk mengangkut padi dari sawah ke lumbung, sekaligus sebagai “pengalihan perhatian” para petani yang lelah karena mengangkat berat beban padi yang dibawanya. Perlahan-lahan rengkong menjelma menjadi kesenian tradisional masyarakat Sunda, yang lazimnya dipertunjukkan saat hari besar nasional, upacara keagamaan, upacara perkawinan, bahkan menyambut tamu istimewa. Di sini berarti rengkong memiliki fungsi estetika dan sekaligus hiburan.Di luar fungsi-fungsi tersebut ternyata rengkong juga mempunyai fungsi religius. Rengkong digunakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan dan Dewi Sri Pohaci (Dewi Kesuburan). Masyarakat Sunda memang lekat dengan kepercayaan kepada Dewi Sri Pohaci. Di beberapa daerah, seperti Banten, Sukabumi, Sumedang, dan Bogor, kadang kala setelah panen tiba, diadakan pesta adat yang menyertakan seni rengkong di dalamnya. Ini adalah wujud rasa syukur kepada Tuhan karena telah diberikan hasil panen yang melimpah. Di daerah-daerah tersebut memiliki nama pesta adat yang berbeda.

Di Bogor, Banten, dan Sukabumi masyarakat menyebut upacara pesta adat dengan nama upacara Seren Taun, sedangkan di Sumedang masyarakat menyebutnya upacara Ngalaksa. Ternyata selain dikenal oleh masyarakat di Jawa Barat, seni rengkong juga dikenal masyarakat Banyumas, Jawa Tengah.


Seni rengkong ini dikenal masyarakat Banyumas melalui kontak/interaksi dengan kebudayaan Sunda, yang telah mengenal rengkong terlebih dahulu. Tidak jauh berbeda dengan fungsi rengkong di beberapa daerah di Jawa Barat, di Banyumas rengkong juga digunakan sebagai media ekspresi rasa syukur kepada Tuhan terhadap hasil panen yang melimpah. Nilai yang ingin “ditularkan” dan yang dapat kita teladani dari kesenian rengkong adalah nilai kerja keras. Nilai ini jelas terlihat dari kesungguhan mengangkat beban padi, asal mula kesenian ini. Sungguh bentuk kesenian yang bersahaja dan harus terus dilestarikan.


Dimuat www.situseni.com, Februari 2010.

1 COMMENT

  1. Permisi min,numpang minta tolong, rekan-rekan yang pernah nonton pertunjukan kesenian Rengkong Hatong tolong kesediaannya buat ngisi kuesioner saya.. Ini linknya https://docs.google.com/forms/d/1mi0e1RMllk0N5rRKkf-W0EKVdUyR83b6iqfNLnhh74s/viewform?pli=1

LEAVE A REPLY