Veteran Perang “Ganjang Malaysia” yang Tercecer di Kelapa Gading

Ilustrasi/rosodaras.wordpress.com
Pak Djaelani duduk di tengah dua orang ibu. Foto: Fandy Hutari.

 

Namanya Djaelani. Ia mengaku sebagai veteran perang “ganjang Malaysia”. Pertemuan saya dengan Pak Djaelani bisa dibilang tidak sengaja. Awal bulan Oktober 2009, saya yang masih bekerja untuk sebuah media online komunitas di Kelapa Gading diberi tugas mewawancarai warga miskin yang menerima beras untuk rakyat miskin (raskin) di daerah Pegangsaan Dua, Kelapa Gading. Di antara warga miskin yang saya wawancarai, ada Pak Djaelani.

Setelah proses wawancara, saya dipanggil Pak Djaelani, dan kemudian ia bercerita masa lalunya. Ia veteran perang konfrontasi Indonesia-Malaysia.

“Dulu saya veteran perang ganyang malaysia. Pernah dibawa ke Kalimantan,” katanya.

Pak Djaelani awalnya bertugas sebagai anggota dapur umum di Kalimantan. Bersama beberapa temannya, ia ikut ke Kalimantan. Pria senja kelahiran 1920 ini memegang jabatan terakhir sebagai seorang Kopral.

Saya juga diperlihatkan bukti berupa surat dari presiden Soekarno yang menyatakan kebanggaan perjuangannya. Namun setelah saya lihat baik-baik, surat yang dibuat tahun 1964 itu ternyata hanya pidato Soekarno mengenai perang ini. Saya juga melihat keputusan Arsip Nasional yang tidak menemukan data tentang dirinya pada peristiwa perang itu.

Pak Djaelani mengeluhkan, karena ia tidak diakui sebagai veteran perang oleh negara. Ia kecewa, tidak ada santunan dari negara kepadanya. Mungkin ini juga dihadapi veteran-veteran perang lain di negeri ini.

Pak Djaelani kini tinggal di rumah sempit daerah kumuh di wilayah RW 2 Kelurahan Pegangsaan Dua, Kelapa Gading. Mayoritas warga di sini bekerja sebagai pemulung limbah besi dan pedagang. Pak Djaelani sendiri dahulu bekerja sebagai pedagang.

Konfrontasi Indonesia-Malaysia adalah sebuah perang mengenai masa depan pulau Kalimantan, antara Malaysia dan Indonesia pada tahun 1962-1966. Perang ini berawal dari keinginan Malaysia untuk menggabungkan Brunei, Sabah dan Sarawak dengan Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1961. Keinginan itu ditentang oleh Presiden Soekarno yang menganggap Malaysia sebagai “boneka” Britania.

LEAVE A REPLY