Runtuhnya Warung Putra

Ilustrasi/akun Facebook Putra

Akhir September 2015, saya berkunjung ke warung kecil Putra di bilangan Jatibening, Bekasi. Putra tengah sibuk menyapu sampah yang berserak di sekitar warungnya. Di kanan-kiri warung Putra, terdapat kios martabak dan mie yang belum buka. Hanya Putra yang sudah membuka warungnya dari pagi. Wajah gembulnya membengkak saat senyum menyembul.

“Duduk sini,” kata Putra menyodorkan kursi plastik.

Warung Putra bernama Imaji. Nama ini mungkin terinspirasi dari rumah produksi seorang kawan, yang dahulu dia sempat bekerja, termasuk saya. Hanya ada empat kursi plastik di warungnya, dan satu persegi panjang. Etalase tempat meracik jus dan aneka makanan terletak tepat di pinggir jalan. Warungnya masih berada di halaman Ruko Jatibening Circle.


Tak lama, mantan rekan saya di kantor dahulu, Miko datang.


“Mau minum apa lo?” kata Putra.


Kami dibautkan es teh manis. Lalu, Miko memesan jus srikaya buatan Putra. Warung itu sepi. Hanya kami berdua saja yang menjadi pelanggan Putra.


Sebelumnya, lewat grup WhatsApp rekan kerja saya di perusahaan lama, sempat berdiskusi membangun sebuah kafe, tempat nongkrong. Putra juga berencana mencari tempat di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Cuma, karena terbentur dengan dana, maka harapan tinggal harapan.


***
Selain aneka jus buah, Putra menjual makanan siap saji, seperti spagethi, burger, dan pasta. Dahulu, sewaktu saya bekerja di kantor lama, selain lihai bersih-bersih, Putra memang jago masak-memasak. Saat perut kami, para pemburu berita, sedang keroncongan, cheff Putra sigap menambalnya dengan roti bakar atau mie goreng.


Warung Imaji didirikan Putra sekitar Agustus 2015. Namun, tak lama setelah saya berkunjung dari warungnya, Putra tiba-tiba mengirim pesan WhatsApp.


“Fan, pinjam duit. Penting,” katanya.


Karena saya sedang kesusahan pula dalam hal materi, saya tak bisa membantu sesuai nilai yang dia pinjam. Saat saya tanyakan, uang itu untuk membayar kamar kosnya. Ada apa?


Pertengahan Oktober 2015, saya dapat kabar Putra bermalam di kantor lama saya. Menurut seorang kawan, warung Putra bangkrut. Alamak! Kabar terakhir, 2 minggu lalu Putra pulang ke tempat istrinya di Bandung.

Belakangan ini, saya sering membaca artikel-artikel soal bisnis kecil dan menengah. Di bidang kuliner, tempat yang strategis menjadi hal mutlak bergerak atau tidaknya sebuah usaha. Lagi pula, mungkin saja masakan Barat yang disajikan Putra kurang pas untuk lidah warga sekitar. Hal ini tentu berbeda jika Putra membuka kedai macam itu di sekitar lingkungan kampus. Satu lagi, bantingan harga yang terlalu murah untuk produk kulinernya, mungkin pula menjadi bom waktu gulung tikarnya warung milik Putra ini.

Banyak sekali orang yang gulung tikar, justru ketika mereka memilih bisnis kuliner. Semisal, superstar Britnet Spears. Restoran pertamanya bernama Nyla yang buka pada 2001, harus bangkrut setelah bertahan hanya 6 bulan [].


Jalan Juanda 3, Jakarta Pusat.

LEAVE A REPLY