Riwayat Sandiwara Penggemar Maya 1944-1950 (Bagian Pertama)

Di tengah semaraknya dunia panggung sandiwara dan tekanan sensor yang luar biasa dari pemerintah pendudukan Jepang, muncul satu perkumpulan sandiwara yang diam-diam menyelipkan cita-cita kemerdekaan. Perkumpulan tersebut adalah Sandiwara Penggemar1 Maya.
Salah satu tokoh sentral yang berdiri di belakang Maya adalah Usmar Ismail. Awalnya ia bekerja di Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidosho). Zaman Jepang setiap kegiatan seni memang dikontrol oleh pemerintah. Jepang sendiri menghimpun para seniman Indonesia ke dalam Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidosho) yang didirikan pada 1 April 1943. Yang duduk dalam lembaga itu kebanyakan seniman tua, angkatan Pujangga Baru. Namun kantor Keimin Bunka Shidosho seringkali dipakai sebagai tempat diskusi para seniman muda yang baru memulai karirnya. Sering terjadi gesekan pemikiran antara golongan tua dan golongan muda dalam Keimin Bunka Shidosho. Ini karena, golongan muda mendapat pikiran dan dorongan baru baik di lingkungan sastra, musik, seni rupa, dan sandiwara (Sumardjo, 2004: 141-142).
Dalam lingkungan sastra tersebut nama sastrawan legendaris, Chairil Anwar, yang sempat bersitegang dengan seniornya, Sutan Takdir Alisyahbana. Selain di bagian sastra, ”gesekan” antara golongan tua dan golongan muda juga terjadi di bagian sandiwara dengan munculnya nama Usmar Ismail yang sempat berbeda pendapat dengan Dr. Roesmali. Pada suatu ketika, Usmar Ismail mementaskan lakon Manusia Baru gubahan Sanusi Pane. Menariknya, Usmar menggunakan spotlight (lampu sorot) yang dipancarkan pada tubuh serta wajah pelaku yang tengah mengucapkan dialog pada pertunjukan ini. Rosihan menulis:

”Sehabis pertunjukan diadakan kesempatan melahirkan kritik oleh para penonton yang diundang menyaksikan ”try out” atau percobaan pementasan tadi. Maka berdirilah Dr. Roesmali yang waktu itu punya reputasi seorang regisseur tonil, a.l. di kalangan para mahasiswa Indonesia di zaman sebelum Perang Dunia ke-II, dan dikritiknya bahwa penggunaan ”spotlight” tadi sama sekali tidak pada tempatnya. Seharusnya seluruh ruangan pentas diliputi oleh cahaya lampu yang sama terangnya. Lalu Usmar Ismail menjawab bahwa penggunaan ”spotlight” dengan sengaja tadi itu adalah sebagai alat pembantu mempertinggi intentitas dan dramatik daripada lakon. Akan tetapi keterangan itu tidak dapat diterima oleh Dr. Roesmali…” (Anwar dalam Budaya Jaya, 1973: 588).
Jika menilik kejadian di atas, jelas bahwa Usmar yang saat itu baru berusia sekitar 21 tahun sudah menunjukkan bakatnya di bidang sandiwara modern. Bisa dikatakan, ia merupakan pelopor penggunaan spotlight dalam pementasan sandiwara. Golongan-golongan muda seperti Chairil dan Usmar ini lah yang kemudian mendobrak ranah-ranah yang telah ada sebelumnya, dan terselip pula keinginan untuk berkarya secara bebas, lepas dari propaganda Jepang.
Menurut keterangan Rosihan, ketika itu Usmar baru menceburkan diri di bidang penulisan lakon dan sekaligus menjadi sutradara pada lakon gubahannya. Awalnya, Usmar melatih diri dengan menulis lakon satu babak yang dimaksudkan untuk sandiwara radio. Pada akhir 1942, Usmar telah melakukan percobaan dengan sandiwara radio yang dipancarkan Jakarta Hoosoo Kyoku, radio balatentara Jepang di Jakarta (Anwar dalam Budaya Jaya, 1973: 588). Usmar, kata Rosihan, memang telah menaruh minat pada bidang sandiwara sejak mereka bersama-sama sekolah di AMS A Yogyakarta. Rosihan mengenang: ”Tiap tahun sekolah kami menyelenggarakan pertunjukan lakon sandiwara, dan Usmar pernah memerankan dewa Yunani Mercurius di pentas” (Anwar, 1983: 64). Usmar sendiri pernah mengatakan bahwa seorang seniman dalam berkarya tidak bisa dipaksakan menuruti suatu ideologi tertentu, karya-karya seniman harus lahir dari hati nurani seniman sendiri atas dorongan spontanitas dan kejujuran serta mengungkapkan kebenaran-kebenaran yang abadi (Ismail, 1983: 20).
Dari idealisme dan bakatnya itu, Usmar lalu berniat membentuk suatu perkumpulan sandiwara yang lepas dari Keimin Bunka Shidosho. Lalu ia mengajak Rosihan Anwar, temannya semasa sekolah dahulu di AMS A Yogyakarta dan wartawan Asia Raya. Satu-persatu teman-temannya sesama seniman diajak, seperti Cornel Simanjuntak (menjadi penata musik untuk Maya), Hario Singgih, Tjok Sinsu, H.B. Angin, Basuki Resobowo, Suromo, Kartono Yudhokusumo, S. Tutur (para pelukis yang lalu menjadi penata panggung Maya). Selain itu, pemuda-pemuda yang bukan dari kalangan seniman juga bergabung, seperti H.B. Jassin (bekerja untuk Pandji Poestaka), Dr. Ali Akbar (dokter du CBZ, sekarang RSCM), Zainal Abidin (seorang apoteker), Boes Effendi, Hermin, Zuraida Sanawi, Hadjari Singgih, Tienne Mamahit, serta Djuwita (Jassin, 1955: 132; Anwar, 1983).
Atas dukungan kakak Usmar Ismail, Dr. Abu Hanifah alias El Hakim, akhirnya Perkumpulan Sandiwara Penggemar Maya terbentuk pada 27 Mei 1944(Oemarjati, 1971: 38). Menurut H.B. Jassin, Maya sendiri berarti bayangan atau impian, dunia yang dicita-citakan. Isi dari cita-cita tersebut, yaitu kebangsaan, kemanusiaan, dan ketuhanan (Jassin dalam Mimbar Indonesia, 1949: 20). Dengan cita-citanya tersebut, bisa dikatakan Maya merupakan perkumpulan sandiwara yang mempunyai garis perjuangan tegas pada zamannya.
Rosihan Anwar ditunjuk sebagai ketua perkumpulan ini. Kakak Usmar Ismail, Dr. Abu Hanifah, bertindak sebagai penulis lakon. Sementara Usmar sendiri berperan sebagai sutradara, meski tak jarang juga ia kerap menulis lakon. Tujuan mendirikan perkumpulan sandiwara penggemar Maya sendiri cukup ”radikal” pada masa itu. Rosihan menulis bahwa alasan membentuk Maya, yaitu :

“…kami ingin berusaha di luar ruang lingkup Pusat Kebudayaan. Kalau di Keimin Bunka Sidoosho masih ditenggang unsur-unsur Sidookan Jepangnya, maka di dalam Maya seratus persen orang-orang Indonesia bisa berkarya.” (Anwar dalam Budaya Jaya, 1973: 589).
Jelas sekali, pemuda seperti Rosihan, Usmar, dan Abu Hanifah mendirikan Maya karena mereka ingin bebas berkarya. Dan sedikit banyak, lepas dari pengaruh propaganda politik Jepang yang perannya dimainkan oleh lembaga kebudayaan Keimin Bunka Shidosho. Menurut saya, Maya merupakan suatu model perkumpulan sandiwara modern yang revolusioner. Dengan begitu, Maya resmi jadi “musuh” bagi Keimin Bunka Shidosho. Perlawanan Maya terhadap pemerintah fasis Jepang, terselip di setiap lakon yang ia bawakan di atas panggung.
(Bersambung)
1. Penggemar di sini disejajarkan dengan istilah amatur, artinya perkumpulan sandiwara yang terdiri dari kaum terpelajar.Dimuat pertama kali di indonesiaseno.com, 9 Mei 2010.

LEAVE A REPLY