Menelisik Lukisan Istana

Memanah karya Henk Ngantung/Fandy Hutari

Ada 28 lukisan dari 20 pelukis yang dipamerkan. Pelukis berkewarganegaraan Indonesia yang bisa kita nikmati antara lain karya Sudjono Abdullah berjudul Diponegoro (1947);Trubus Sudarsono berjudul Potret R.A. Kartini (1946/1947); S. Sudjojono berjudul Di Depan Kelambu Terbuka(1939), Kawan-Kawan Revolusi (1947), Markas Laskar di Bekas Gudang Beras Tjikampek (1964),Sekko (Perintis Gerilya) (1949), dan Mengungsi (1950);Affandi berjudul Laskar Rakyat Mengatur Siasat 1 (1946) dan Potret H.O.S Tjokroaminoto (1946);

Basoeki Abdullah berjudul Pangeran Diponegoro Memimpin Perang (1949); Dullah berjudulPersiapan Gerilya (1949); Harijadi Sumadidjaja berjudul Awan Berarak Jalan Bersimpang (1955) danBiografi II di Malioboro (1949); Henk Ngantung berjudul Memanah (1943); Kartono Yudhokusumo berjudul Pertempuran di Pengok (1949); Raden Saleh berjudul Penangkapan Pangeran Diponegoro(1857);

Gambiranom Suhardi berjudul Potret Jenderal Sudirman (1956); Surono berjudul Ketoprak (1950); Ir. Soekarno berjudul Rini (1958); Lee Man Fong berjudul Margasatwadan Puspita Nusantara (1961); Hendra Gunawan berjudul Kerokan (1955); Ida Bagus Made Nadera berjudul Fadjar Menjingsing(1949); Srihadi Soedarsono berjudul Tara (1977); dan Mahjuddin berjudul Pantai Karang Bolong(1950).

Cukup banyak bukan? Itu baru pelukis berkewarganegaraan Indonesia. Belum lagi perupa asing, seperti Rudolf Bonnet berjudul Penari-Penari Bali sedang Berhias (1954); Diego Rivera berjudulGadis Melayu dengan Bunga (1955); Miguel Covarrubias berjudul Empat Gadis Bali dengan Sajen(1933-1936); dan Walter Spies berjudul Kehidupan di Borobudur di Abad ke-9 (1930).

Bukan melulu menikmati lukisan. Kita pun bisa membayangkan benda-benda istana lainnya, seperti keramik, sekitar 100 foto (foto aktivitas Soekarno dan Joko Widodo), serta buku-buku seni koleksi Istana.

Perdana dari Istana

Jpeg
Suasana ruang pameran/Fandy Hutari.

Pameran yang dikuratori oleh Mikke Susanto dan Rizki A. Zaelani ini merupakan pameran koleksi lukisan dan benda-benda koleksi Istana Negara untuk pertama kalinya sejak bangsa ini merdeka 71 tahun silam. Sebelumnya, koleksi-koleksi tersebut menjadi ekslusif di Istana Kepresidenan.

“Sebelumnya, koleksi-koleksi tersebut menjadi ekslusif di Istana Kepresidenan”

Ide untuk memamerkan koleksi Istana sudah ada sejak Megawati Soekarnoputri masih menjabat presiden. Akan tetapi, kendala dana, sumber daya manusia, dan kesiapan birokrasi internal istana memupuskan ide tadi. Di masa Susilo Bambang Yodhoyono, sosialisasi koleksi hanya terjadi beberapa kali dalam bentuk peminjaman koleksi oleh lembaga lain, tak menyeluruh, dan tak merepresentasikan istana presiden.

Menurut salah satu kurator pameran, Mikke Susanto, riset koleksi sudah dilakukan sejak 2009 lalu. Bahkan, hingga sekarang riset itu masih berlanjut. Sistem penilaian aset benda seni juga sudah dilakukan pada rentang 2010 hingga 2012.

“Selain itu, kesiapan dana dan sumber daya manusia telah dimulai tahun lalu dengan bekerjasama antarlembaga. Meski secara formal, baru tahun lalu Presiden Joko Widodo menginstruksikan ke Kemensetneg RI sosialisasi benda seni ini. Sehingga pelaksanaan pameran bisa dilangsungkan tahun ini,” kata Mikke ketika saya hubungi.

Jika dihitung, istana di Jakarta, Bogor, Cipanas, Pelabuhan Ratu, Yogyakarta, dan Tampaksiring memiliki koleksi total 2.800 lukisan. Sebagian besar dikumpulkan saat era Soekarno. Jika mau membandingkan dengan beberapa kepala negara lainnya, Soekarno memang pecinta seni.

Ia pun belajar melukis secara otodidak. Dahulu, Soekarno punya kebiasaan mengundang para seniman ke istana, sekadar ngopi dan berdiskusi soal kesenian. Di masa awal pemerintahan, Soekarno pun banyak berburu lukisan-lukisan karya para maestro. Mikke mengaku, tak semua presiden meninggalkan warisan lukisan.

“Jadi, saya sebagai kurator lebih melihat apa yang ada di Istana, daripada membayangkan pikiran bahwa setiap presiden mewariskan benda seni pada kita,” kata Mikke.

Meski demikian, Mikke mengatakan, sesungguhnya ada sejumlah lukisan yang diwariskan Susilo Bambang Yudhyono. Namun, kata Mikke, peringkat penilaiannya masih di bawah dari lukisan-lukisan yang diboyong ke Galeri Nasional Indonesia ini.

Hanya ada dua koleksi lukisan dari masa Soeharto di pameran ini. Salah satunya lukisan berjudulTara karya Srihadi Soedarsono. Lukisan yang dibuat pada 1977 ini menggambarkan seorang anak yang tengah menari Bali. Srihadi sendiri menggunakan judul Tara, sesuai dengan nama anaknya yang belajar tari Bali pada 1975-an.

Satu lagi, lukisan legendaris karya maestro Raden Saleh, Penangkapan Pageran Diponegoro.Lukisan yang diselesaikan pada 1857 itu dikembalikan oleh Pemerintah Belanda pada 1971. Raden Saleh sendiri menyelesaikan lukisan itu di Belanda.

Ia tersulut dengan lukisan karya pelukis Belanda, Nicholaas Pienemaan berjudul Penyerahan Diri Diponegoro kepada Letnan Jenderal H.M. de Kock, 28 Maret 1830, yang Mengakhiri Perang Jawa”,

“Artinya, tidak semua presiden intim dengan seni rupa.”

Pameran ini sendiri dibagi menjadi tiga bagian, yakni potret tokoh penting perjuangan kemerdekaan, kondisi sosial masa revolusi, dan jejak perjuangan dari masa kolonial hingga 1950-an.

Rini dan yang Menarik Lainnya

Salah satu lukisan yang dipamerkan berjudul Rini, menggambarkan potret seorang perempuan cantik berkebaya hijau tengah duduk termenung. Lukisan ini adalah karya Soekarno.

Model dalam lukisan ini masih menjadi misteri hingga sekarang. Menurut Mikke, ada yang mengatakan, perempuan yang duduk dengan tangan di atas paha, menoleh ke kanan, dan ada sepucuk bunga di telinganya itu adalah sosok Sarinah, perempuan yang konon pernah menjadi pengasuh Soekarno.

Namun, ada pula yang mengatakan itu adalah sosok perempuan Jawa, tetapi memiliki wajah gabungan Jawa dan Sasak. Sosok ini juga terpampang di sampul buku karya Soekarno, Sarinah; Kewajiban Wanita dalam Perjuangan Republik Indonesia, yang diterbitkan kembali pada 2015 lalu. Lukisan ini dikerjakan pada 1958 di Istana Tampaksiring, Bali. Sehari-hari, lukisan ini terpacak di dinding Istana Bogor.

Selain lukisan karya Soekarno, ada lukisan karya Henk Ngantung berjudul Memanah. Lukisan ini diboyong langsung oleh Soekarno dari Henk—yang kemudian menjadi Gubernur DKI Jakarta pada 1964—pada 1943. Soekarno kali pertama melihat lukisan ini di sebuah pameran yang diadakan pusat kebudayaan Keimin Bunka Shidosho di Jakarta.

Namun, Henk mengatakan, lukisan itu belum sempurna di bagian lengan. Lalu, Soekarno menawarkan diri menjadi model untuk meneruskan lukisan itu. Lukisan yang menggambarkan pria kekar sedang memanah ini pun menjadi saksi sejarah saat dipampang di latar belakang acara konferensi pers perdana bangsa Indonesia, setelah Soekarno membacakan teks proklamasi.

Di ruang pamer, lukisan ini ada dua. Yang dilapisi meja kaca adalah lukisan asli Henk. Bahannya dari triplek. Dan, sudah rusak di bagian atas kanan. Catnya pun sudah mengelupas. Sedangkan yang dipampang di dinding pameran adalah lukisan ulang karya pelukis kelahiran 1956, Haris Purnomo. Wajah dalam lukisan itu adalah Marius Ramis Dajoh, sastrawan tenar era revolusi.

Lalu, ada lukisan karya seniman Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi), S. Sudjojono, yang diselesaikan hanya dalam waktu sehari, berjudul Kawan-Kawan Revolusi. Lukisan ini dituntaskan pada 1947. Lukisan ini menggambarkan wajah 18 orang pria.

Seorang pahlawan bernama Bung Dullah yang mengebom empat tank Belanda dengan bom yang diikatkan di pinggangnya menjadi inspirasi lukisan ini. Wajah-wajah yang ada di dalam lukisan tersebut, di antaranya Bung Dullah, anak pertama S. Sudjojono Tedja Bayu, Mayor Sugiri, dan Kartono Yudhokusumo.

Seorang pengunjung mengapresiasi pameran ini. “Pamerannya bagus. Unik. Belum pernah ada. Kita bisa mengikuti perjalanan sejarah bangsa lewat pameran lukisan yang baru kali ini dipamerkan,” kata salah seorang pengunjung, Donny Anggoro.

Donny yang berjualan buku secara online itu mengaku, ia pun menjual buku Sarinah; Kewajiban Wanita dalam Perjuangan Republik Indonesia. Dan, ia terperangah ketika menyaksikan kini gambar sampul buku itu ada langsung di hadapannya.

“Saya jualan buku Sarinah, baru melihat lukisan aslinya ada di hadapan saya. Lalu, lukisan Henk Ngantung dua-duanya dipamerkan. Asli dan replikanya,” kata Donny.

Tak Ada Lim Wasim

Pengunjung memandang lukisan Penangkapan pangeran Diponegoro karya Raden Saleh/Fandy Hutari.
Pengunjung memandang lukisan Penangkapan pangeran Diponegoro karya Raden Saleh/Fandy Hutari.

Lim Wasim adalah pelukis Istana terakhir masa Soekarno. Sebelumnya, pelukis istana dipegang oleh Dullah dan Lee Man Fong. Wasim merupakan pelukis “bawaan” Man Fong. Ketika Dullah memutuskan keluar dari istana pada 1961, dan memilih menjadi “pelukis bebas”, Man Fong ditunjuk menggantikan posisinya. Lantas, Man Fong mengajukan syarat, yakni membawa karibnya, Wasim, sebagai asisten. Bung Karno setuju.

Man Fong yang jiwanya ingin bebas dari birokrasi istana, lambat laun menyerahkan tugas merawat koleksi istana kepada Wasim. Di ruang pamer, terdapat empat jilid buku Lukisan-Lukisan Koleksi Soekarno yang dikumpulkan Dullah pada 1956 hingga 1961. Dan, buku Lukisan-Lukisan dan Patung-Patung Koleksi Soekarno sebanyak lima jilid yang dikumpulkan Man Fong hingga 1964. Namun, tak ada buku hasil pekerjaan Wasim di sana.

Ya, Wasim ditugaskan untuk membuat buku Lukisan-Lukisan dan Patung-Patung Koleksi Soekarnojilid enam hingga 10 yang rencananya akan diluncurkan saat ulang tahun Soekarno pada 6 Juni 1966. Sayang, pecah peristiwa G30S. Proyek itu gagal di tengah jalan.

Setelah peristiwa itu meletus, Man Fong menyingkir ke Singapura. Dullah mudik ke Solo. Sedangkan Wasim masih setia di istana. Pelukis yang digaji Rp4.000 per bulan itu pun terkenascreening tentara di Istana.

Mengutip dari buku Melipat Air; Jurus Budaya Pendekar Tionghoa karya Agus Dermawan T, saat ditanyakan gajinya, Wasim baru tahu ia masuk golongan setingkat tukang kebun dan pelayan, yang digaji Rp3.000 hingga Rp5.000. Wasim bertahan di istana hingga 1968. Ia meninggalkan istana dengan status dikeluarkan.

“Wasim baru tahu ia masuk golongan setingkat tukang kebun dan pelayan, yang digaji Rp3.000 hingga Rp5.000”

Lukisan potret karya Wasim berjudul Ida Ayu Nyoman Rai yang notabene ibu dari Soekarno, pernah dipuji Bung Karno. Mungkinkah karya Wasim tak ada di antara ribuan karya lukis yang terpajang di Istana Jakarta, Bogor, Cipanas, Pelabuhan Ratu, Yogyakarta, dan Tampaksiring?

“Banyak perupa yang bisa diusulkan. Nama Lim Wasim maupun nama lainnya sesungguhnya layak dipamerkan. Akan tetapi, ketika saya membuat peringkat karya dan perupa sesuai tema, nama tersebut masih di bawah peringkat nama yang telah dipamerkan saat ini,” kata Mikke.

Soeharto Mengurus Lukisan

Ketika tampuk kekuasaan berpindah ke Soeharto, tak ada yang berubah di Istana. Seluruh koleksi masih terpajang di tempatnya masing-masing, seperti yang sudah diletakkan Bung Karno. Fakta ini merujuk pada keterangan pelukis Istana terakhir Bung Karno, Lim Wasim, yang dikutip oleh kritikus seni Agus Dermawan T dalam artikelnya “Mengintip Istana Enam Presiden” di Koran Tempo (19/8/2011).

Menurut keterangan Lim Wasim yang dikutip Agus, Pak Harto seperti percaya kalau peletakan benda seni yang Bung Karno lakukan ada perhitungan mistisnya. Namun, karena Pak Harto kurang memperhatikan koleksi yang tidak terpajang, sejumlah lukisan dan keramik hilang. Dari sana Si Bapak Pembangunan itu membentuk Sanggar Seni Rupa Istana Presiden. Tujuannya, mengurus segala koleksi Istana.

Jika Pak Harto kurang berani dalam mengotak-atik tatanan lukisan di Istana, lain halnya dengan Ibu Tien. Suatu ketika, tulis Agus, Ibu Tien memerintahkan lukisan-lukisan yang bertema “telanjang” agar tak dipajang di semua istana. Lukisan-lukisan itu kemudian teronggok di ruang tertutup Istana Bogor.

Saat masa Soeharto, tak ada pelukis yang khusus nongkrong di istana, seperti masa Soekarno. Ia hanya punya pelukis “pesanan”, yakni Basoeki Abdullah. Dalam beberapa kesempatan, Basoeki kerap diminta Keluarga Cendana untuk mengerjakan lukisan pesanan.

Suatu ketika, di ulang tahun pernikahan Pak Harto dan Ibu Tien yang ke-40 pada 1987, Basoeki diminta mengerjakan lukisan khusus sebagai hadiah peringatan pernikahan itu. Lukisannya menggambarkan sekumpulan merpati. Setelah selesai, Pak Harto meminta semua anaknya untuk memberikan tanda tangan di tubuh-tubuh merpati itu dengan spidol emas.

Stasiun televisi yang diundang saat perayaan tersebut sesekali menyorot lukisan karya Basoeki. Dan, ketika Basoeki menyaksikan ada yang aneh di tubuh-tubuh merpati hasil karyanya, ia gelisah dan marah. Menurut Mikke Susanto, seperti dikutip dari Tempo.co edisi 2 Februari 2015, Basoeki merasa dilecehkan karena perilaku vandal Keluarga Cendana itu.

Cerita ini berbanding terbalik dengan hubungan Basoeki dan Soekarno. Mikke Susanto, seperti dikutip dari Antara (1/8), mengatakan bahwa lukisan Basoeki adalah yang terbanyak dikoleksi Bung Karno. Ada sekitar 200 karya Basoeki di istana.

Basoeki sudah lama mengagumi Bung Karno sebagai seorang yang gigih dalam memperjuangkan kemerdekaan. Basoeki bukan pelukis Istana yang harus ngantor setiap hari seperti Dullah, Man Fong, atau Lim Wasim. Seperti dikutip dari Tempo.co, ia hanya sewaktu-waktu datang, berdiskusi, dan dipesani lukisan.

“Basoeki sudah lama mengagumi Bung Karno sebagai seorang yang gigih dalam memperjuangkan kemerdekaan”

Lukisan Pangeran Diponegoro Memimpin Perang yang diselesaikan pada 1949 dan saat ini dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia merupakan hadiah yang diberikan Basoeki untuk Soekarno pada 1950-an. Wajah Diponegoro dalam lukisan ini, menurut keterangan katalog pameran, dibuat berdasarkan petunjuk dari Nyai Roro Kidul. Basoeki memang orang yang kerap bersinggungan dengan hal-hal mistis, termasuk saat mengerjakan lukisan.

Terlepas dari itu semua, pameran ini boleh dikatakan angin segar keterbukaan istana memamerkan keindahannya kepada publik.

Artikel ini pertama kali dimuat di Selasar.com, 5 September 2016.

 

LEAVE A REPLY