| Ully Sigar dan saya |
Pada acara
Tribute to Batik yang diadakan untuk menyemarakan Hari batik Nasional di Trans
Studio Mal, Bandung, 2 Oktober 2013, musisi Ully Sigar Rusady bersama kelompok
Nyanyian Alam tampil dengan lima lagu yang bertema alam dan batik. Di acara
tersebut, Ully didapuk sebagai pembuka acara Tribute to Batik. Di panggung,
Ully sempat menyanyikan satu lagunya yang ia akui dikarangnya ketika dalam
perjalanan ke acara Tribute to Batik. Ully, yang ditemui selesai acara, mengungkapkan pandangan menarik menyoal batik. Perempuan yang
bernama lengkap Rulany Indra Gartika Wirahaditenaya ini melihat, batik dan
kelestarian alam harus hidup harmonis.
Tribute to Batik yang diadakan untuk menyemarakan Hari batik Nasional di Trans
Studio Mal, Bandung, 2 Oktober 2013, musisi Ully Sigar Rusady bersama kelompok
Nyanyian Alam tampil dengan lima lagu yang bertema alam dan batik. Di acara
tersebut, Ully didapuk sebagai pembuka acara Tribute to Batik. Di panggung,
Ully sempat menyanyikan satu lagunya yang ia akui dikarangnya ketika dalam
perjalanan ke acara Tribute to Batik. Ully, yang ditemui selesai acara, mengungkapkan pandangan menarik menyoal batik. Perempuan yang
bernama lengkap Rulany Indra Gartika Wirahaditenaya ini melihat, batik dan
kelestarian alam harus hidup harmonis.
Aktivis
lingkungan yang lahir di Garut pada 4 Januari 1952 ini mengatakan, batik
sangat erat kaitannya dengan alam. “Karena batik itu sangat dekat hubugannya
dengan kelestarian alam. Karena itu untuk melestarikan batik, bukan cuma hanya
masalah penampilannya saja. Tapi juga dalam kaitannya kenapa batik itu dibuat.
Semua ada sejarahnya. Bahwa dari zaman dahulu, Raja Sunda, sudah membuat batik
dengan menjaga pula kelestarian alam,” ungkap Ully yang kerap memakai busana
khasnya. Lebih lanjut, musisi yang sudah menelurkan banyak album, seperti Rimba
Gelap (1978); Pelita dalam Gulita (1981); Pengakuan (1983); Senandung Kabut
Biru (1986); dan Air Sumber Kehidupan (2003) ini mengungkapkan, harus ada
keseriusan agar batik sebagai hasil budaya bangsa tidak “dicuri orang”. “Kalau
kita tidak mau produk bangsa kita dicuri orang, kita harus rajin-rajin membuat
promosi. Memberikan pesan-pesan moral, agar batik ini dijaga keberadaannya,”
katanya.
lingkungan yang lahir di Garut pada 4 Januari 1952 ini mengatakan, batik
sangat erat kaitannya dengan alam. “Karena batik itu sangat dekat hubugannya
dengan kelestarian alam. Karena itu untuk melestarikan batik, bukan cuma hanya
masalah penampilannya saja. Tapi juga dalam kaitannya kenapa batik itu dibuat.
Semua ada sejarahnya. Bahwa dari zaman dahulu, Raja Sunda, sudah membuat batik
dengan menjaga pula kelestarian alam,” ungkap Ully yang kerap memakai busana
khasnya. Lebih lanjut, musisi yang sudah menelurkan banyak album, seperti Rimba
Gelap (1978); Pelita dalam Gulita (1981); Pengakuan (1983); Senandung Kabut
Biru (1986); dan Air Sumber Kehidupan (2003) ini mengungkapkan, harus ada
keseriusan agar batik sebagai hasil budaya bangsa tidak “dicuri orang”. “Kalau
kita tidak mau produk bangsa kita dicuri orang, kita harus rajin-rajin membuat
promosi. Memberikan pesan-pesan moral, agar batik ini dijaga keberadaannya,”
katanya.
Perihal
batik produksi luar negeri, dan digemari konsumen batik di negeri ini, Ully
yang aktif di berbagai organisasi, seperti mendirikan dan membina Sekolah Musik
Vidi Vici (1979); pendiri dan pimpinan yayasan Garuda Nusantara (1985);
konsultan dan duta keliling UNEP (1986); Dewan Pertimbangan Penghargaan
Kalpataru ini mengungkapkan pandangannya, bahwa hal tersebut hanya masalah
promosi. “Itu hanya masalah promosi atau tren pasar yang akan dibuat. Karena audiens itu harus dibentuk. Jadi, tidak
mungkin ada sendiri kan (audiens/konsumen),”
paparnya.
batik produksi luar negeri, dan digemari konsumen batik di negeri ini, Ully
yang aktif di berbagai organisasi, seperti mendirikan dan membina Sekolah Musik
Vidi Vici (1979); pendiri dan pimpinan yayasan Garuda Nusantara (1985);
konsultan dan duta keliling UNEP (1986); Dewan Pertimbangan Penghargaan
Kalpataru ini mengungkapkan pandangannya, bahwa hal tersebut hanya masalah
promosi. “Itu hanya masalah promosi atau tren pasar yang akan dibuat. Karena audiens itu harus dibentuk. Jadi, tidak
mungkin ada sendiri kan (audiens/konsumen),”
paparnya.
Kakak
kandung dari artis Paramitha Rusady ini menegaskan, kita harus membentengi
batik Indonesia dari serbuan bahan baku impor, terutama dari Cina. Untuk
diketahui, tahun lalu impor kain tenun dicetak batik mencapai 677,4 ton senilai
23,3 juta dolar AS, dan kain tenun yang dicetak dengan proses batik mencapai
199,2 ton senilai 1,8 juta dolar AS. Pewarna untuk membatik pun mayoritas masih
mengandalkan pewarna kimia yang didatangkan dari luar negeri. Padahal, dahulu
pembatik-pembatik kita sudah mengenal dan memanfaatkan tumbuh-tumbuhan yang
dapat mewarnai bahan tekstil, seperti daun pohon nila, kulit pohon soga tingi,
kayu tegeran, kunyit, teh, akar mengkudu, kulit soga jambal, daun jambu biji,
dan kesumba. “Harus ada counter dari (organisasi,
red) persatuan batik. Harus ada seminar. Harus ada tim yang memang menangani
(masalah, red) itu. Jadi, semua bersatu. Kalau cuma protes saja tidak ada
gunanya. Harus ada tindak nyata, bahwa satu kelompok bisnis yang dapat
mengantisipasi itu semua, seperti (misalnya masalah, red) tata produksi untuk
pembuatan batik itu. Semua rakyat Indonesia bertanggungjawab,” tandas Ully
serius.
kandung dari artis Paramitha Rusady ini menegaskan, kita harus membentengi
batik Indonesia dari serbuan bahan baku impor, terutama dari Cina. Untuk
diketahui, tahun lalu impor kain tenun dicetak batik mencapai 677,4 ton senilai
23,3 juta dolar AS, dan kain tenun yang dicetak dengan proses batik mencapai
199,2 ton senilai 1,8 juta dolar AS. Pewarna untuk membatik pun mayoritas masih
mengandalkan pewarna kimia yang didatangkan dari luar negeri. Padahal, dahulu
pembatik-pembatik kita sudah mengenal dan memanfaatkan tumbuh-tumbuhan yang
dapat mewarnai bahan tekstil, seperti daun pohon nila, kulit pohon soga tingi,
kayu tegeran, kunyit, teh, akar mengkudu, kulit soga jambal, daun jambu biji,
dan kesumba. “Harus ada counter dari (organisasi,
red) persatuan batik. Harus ada seminar. Harus ada tim yang memang menangani
(masalah, red) itu. Jadi, semua bersatu. Kalau cuma protes saja tidak ada
gunanya. Harus ada tindak nyata, bahwa satu kelompok bisnis yang dapat
mengantisipasi itu semua, seperti (misalnya masalah, red) tata produksi untuk
pembuatan batik itu. Semua rakyat Indonesia bertanggungjawab,” tandas Ully
serius.
Terakhir, Ully
yang pernah mendapatkan berbagai penghargaan karena aktivitasnya di bidang
pelestarian alam, di antaranya Global 500 Award dari PBB United Nations
Environment Program (1987); International Woman of the Year dari International
Biographical Centre of Cambridge England (1993); Satya Lencana Pembangunan dari
Presiden RI (1996); Bintang Jasa Pratama dari Presiden RI (2000); dan Kalpataru
dari Menteri Negara Lingkungan Hidup RI (2001) ini menyarankan agar batik
dimasukan ke salah satu unsur pendidikan kita. “Kita harus melestarikan batik
dalam segala segi. Seperti lagu saya tadi, cerita tentang balada
ketidakharmonisan yang terjadi di dunia ini. Karena salah persepsi. Penguasa
salah pola pikir, dan salah tindakan. Oleh karena itu, diperlukan pendidikan.
Nah, batik harus dimasukan ke dalam unsur pendidikan,” tutupnya []
yang pernah mendapatkan berbagai penghargaan karena aktivitasnya di bidang
pelestarian alam, di antaranya Global 500 Award dari PBB United Nations
Environment Program (1987); International Woman of the Year dari International
Biographical Centre of Cambridge England (1993); Satya Lencana Pembangunan dari
Presiden RI (1996); Bintang Jasa Pratama dari Presiden RI (2000); dan Kalpataru
dari Menteri Negara Lingkungan Hidup RI (2001) ini menyarankan agar batik
dimasukan ke salah satu unsur pendidikan kita. “Kita harus melestarikan batik
dalam segala segi. Seperti lagu saya tadi, cerita tentang balada
ketidakharmonisan yang terjadi di dunia ini. Karena salah persepsi. Penguasa
salah pola pikir, dan salah tindakan. Oleh karena itu, diperlukan pendidikan.
Nah, batik harus dimasukan ke dalam unsur pendidikan,” tutupnya []
*Dimuat di Majalah Etnik Vol 4/Th 1 Desember 2013






