adalah kunci,†kata Butet.
berasal dari timur Jakarta. “Bung Karno mengidentifikasi sebagai Putera Sang
Fajar, dari timurnya Jakarta. Pak Harto juga. Pak Habibie Sulawesi, timurnya
Jakarta. Gus Dur, Jombang. Megawati kelahiran Yogya, timur. (Susilo Bambang
Yudhoyono dari) Pacitan. (Jokowi) wong Solo, timurnya Jakarta,†kata Butet.
Seraya bercanda, Butet mengatakan, jangan-jangan ada Satria Piningit di timurnya
Jakarta.
Mataram datang ke Papua. Mereka bertemu Arie Kriting dan dua kawannya.
itu juga terlihat di-setting plank bertuliskan “Sekolah Terbukaâ€.
kawannya yang sudah lama merantau di Jakarta, Akbar. Sebelum mereka pergi ke
Jakarta, terjadi insiden yang menyebabkan Arie dan Akbar dipenjara oleh aparat.
“Kamu mengibarkan bendera merah putih setengah tiang. Kamu anggota OPM!†kata
salah seorang aparat yang lagi-lagi diperankan oleh Trio Guyonan Ala Mataraman.
di kantor aparat yang menangkapnya. Batu bulat berwarna merah itu, diceritakan
memiliki kekuatan yang dahsyat untuk menyembuhkan penyakit dan menyelesaikan
segala masalah.
berubah menjadi taman Monas dengan tugu yang bengkok. Orang kota, terlihat
lebih “modernâ€, penuh gaya, hedon, energik, dan mewah. Arie dan Akbar menggelar
jualan obat-obatan alternatif di taman Monas “bengkokâ€. Tabib dari Timur
seakan-akan ingin menggambarkan karakteristik orang kota yang hedonis, liberal,
dan hanya memikirkan uang.
sekelompok perempuan cantik yang membawa kertas bertuliskan “Save KPK†dan
“Save Ahokâ€. Kemudian, tak lama, muncul tukang es krim dengan gerobak
bertuliskan “Es Krim H. Tulungâ€.
mobil tak boleh lewat dalam sehari. “Hebat kan, Jakarta?†kata Akbar. Tapi,
dengan polosnya Arie membalas,“Di sana malah tak pernah ada mobil lewat. Hebat
kan?â€
bawa bisa menyelesaikan segala persoalan. Dia pun “dipelihara†oleh tante
cantik, istri salah satu pejabat DPRD DKI Jakarta, Marwoto. Karakter pejabat
ini mengingatkan penonton pada Haji Lulung, dengan gaya rambut, gestur, dan
pakaiannya. Sosok Haji Lulung mendadak populer saat dirinya menjadi bahan bully di Twitter, setelah salah mengeja UPS menjadi USB beberapa waktu lalu. Momen ini ditangkap secara cerdas oleh tim kreatif Tabib dari Timur sebagai bahan lelucon yang segar.
menunjukan batu sakti yang, katanya, bisa mengatasi segala masalah, termasuk
masalah kebahagiaan Marwoto dan istrinya. Arie pun akhirnya bertemu kekasihnya, Audrey. Tapi, kebahagian pertemuan mereka terganggu dengan kehadiran istri Marwoto. Istri Marwoto penasaran dengan kekuatan Arie. Dan, Arie pun menceritakan kalau yang membuatnya sakti adalah sebuah batu. Saat istri Marwoto memegang batu sakti itu, dia tak kuat menahan kesaktian batu tadi.
percaya cerita istrinya, menghukum Arie. Audrey datang dan menangis. “Ingat, persatuan dan kesatuan harus berada di atas keadilan!†kata Arie mengakhiri kisah si
juru sembuh dari Papua.
Satria Piningit atau Ratu Adil sudah menjadi bagian dari mitos yang tak pernah mati dalam alam pikiran manusia Indonesia. Ramalan akan datangnya Ratu Adil yang membawa Nusantara ke masa keemasan disampaikan oleh Prabu Jayabaya ratusan tahun silam. Ramalan Jayabaya masih dipercaya hingga saat ini.
rakyat pada sosok pemimpin yang adil. Kembali ke pernyataan Butet soal pemimpin negeri ini yang selalu berasal daritimur Jakarta, Tabib dari Timur Butet juga ingin menyampaikan kalau Ratu Adil bisa saja berasal dari timur Indonesia, dalam hal ini Papua.
ini adalah tabib yang diharapkan bisa menyembuhkan luka hati…†tulis Butet
dalam artikel “Aku Papua: Seandainya Aku Orang Jawa†di tabloid pertunjukan
Tabib dari Timur, Indonesia Kaya. Dan,
mungkin hanya di lakon ini, Jakarta “dikendalikan†oleh tokoh dari timur Indonesia.
kreatif di balik pertunjukan lucu namun satir ini adalah budayawan dan penulis
yang namanya tak asing lagi bagi penikmat seni pertunjukan dan dunia penulisan.
Mereka adalah Butet Kartaredjasa, Djaduk Ferianto, dan Agus Noor. Agus Noor
bertindak sebagai sutradara. Mereka berkolaborasi dengan koreografer asal
Papua, Jecko Siompo dan Jeckos Dance Animal Pop Family. Penata musik
pertunjukan ini adalah kelompok Jakarta Street Music.
berasal dari timur Jakarta, mulai dari Soekarno (Blitar), Soeharto
(Yogyakarta), Bacharuddin Jusuf Habibie (Makassar), Abdurrahman Wahid
(Jombang), Megawati Soekanoputri (Yogyakarta), Susilo Bambang Yudhoyono
(Pacitan), dan Joko Widodo (Solo), nyatanya tak kunjung menjelma jadi Ratu Adil
yang mampu menjawab segala persoalan bangsa. “Bisa jadi Ratu Adil yang mewujud
sebagai tabib yang akan menyelamatkan Indonesia itu datangnya justru
dari Papua,†kata Butet [].






