Selamat Jalan “Ini Ibu Budi”

Ilustrasi/kumpulanmisteri.com

Ada banyak tokoh yang saya lihat di televisi sewaktu kecil. Mereka menemani masa-masa kecil saya. Semisal, Kak Seto dengan tokoh boneka Si Komo-nya yang sering bikin macet, Pak Tino Sidin yang selalu mengajar gambar di program Gemar Menggambar, dan selalu memuji “ya, bagus!” kemudian ada Pak Raden dengan boneka Si Unyil-nya yang melegenda.

Kak Seto, dengan karakter boneka Si Komo, Ulil, Piko, dan Belu mengajarkan saya soal budi pekerti sebagai seorang anak. Jika acara Pak Tino sudah tayang di TVRI, saya langsung buru-buru menyiapkan kertas untuk menggambar dan sebuah spidol. Karena beliau ini saya jadi bisa metode menggambar sederhana. Tokoh Si Unyil buatan Pak Raden adalah favorit saya setiap Minggu. Ceritanya yang begitu dekat dengan lingkungan kita, kerap mengajarkan moralitas.

Sering saya berpikir, untuk bertemu mereka kelak ketika dewasa. Dari tokoh-tokoh layar kaca tadi, yang berhasil saya temui dan wawancara hanya almarhum Pak Raden. Pak Tino Sidin sudah wafat pada 29 Desember 1995.

Selain tokoh-tokoh tadi, ada pula yang saya kenal di dunia hiburan, yakni Maria Oentoe. Ibu berusia 69 tahun ini akrab kita dengar suaranya jika kita pergi ke bioskop: “Mohon perhatian Anda, pintu teater satu telah dibuka…”

Suatu saat, jika beliau punya usia panjang, saya juga ingin sekali bertemu dan ngobrol soal dunia sulih suara.

*

Satu lagi tokoh yang saya kenal saat duduk di bangku sekolah dasar. Beliau adalah Ibu Siti Rahmani Rauf. Pasti kalian yang sedang belajar membaca sewaktu SD tahun 1990-an awal mengenal kalimat,”Ini Ibu Budi” yang diajarkan oleh Ibu atau Bapak guru.

Kalimat itu lalu berkembang jadi, “Ini Bapak Budi”, “Ibu Budi pergi ke pasar,” dan sebagainya. Buku peraga pelajaran Bahasa Indonesia Ini Ibu Budi diciptakan pada 1980-an.

Dahulu, ketika saya duduk di bangku kelas 1 SD, saya menghapal kalimat-kalimat di buku pekajaran itu di rumah. Kemudian, ibu saya membantu daya baca saya melalui metode mengenal huruf sejak saya berusia 3 atau 4 tahun.

Entah kebetulan atau tidak, kemarin saya membuat toko buku online dengan nama akun Buku Ini Ibu Budi di rumah Mas Donny Anggoro. Sejak dalam perjalanan menuju rumah Mas Donny di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur, memang hanya kalimat itu yang berkelebat di kepala.

Dan, tadi siang mantan guru kelahiran Padang 97 tahun lalu itu wafat. Sejak 2009, menurut informasi sebuah berita di media online, kesehatan Ibu Siti sudah menurun.

Selamat jalan Ibu Siti. Berkat metode baca ibu, jutaan anak di Indonesia jadi bisa membaca, lalu berkembang menjadi menulis.

Jika saja ibu diberi usia lebih panjang, dan saya punya kesempatan wawancara, ada satu pertanyaan sederhana yang ingin saya lontarkan: Kenapa ibu memilih memakai nama Budi? Kenapa tidak Anto atau Surtini? [].

 

LEAVE A REPLY