Manusia Dalam Gelas Plastik merupakan buku kumpulan cerpen Fandy yang berisi 13 cerita pendek menyoal kehidupan masyarakat lapisan bawah. Dalam buku ini, Fandy bercerita soal kehidupan seorang sarjana yang jadi tukang parkir di sebuah warnet (cerpen Kepura-puraan), seorang pengamen jalanan (Panggung Jalanan), seorang anak kecil yang semangat belajar namun dari keluarga kurang mampu (Imajinasi untuk Tasya), seorang pekerja rumah tangga yang harus berjuang di Hong Kong demi keluarganya di Malang (Setangkup Rindu dari Hong Kong), dan lain-lain.
Yang menarik soal kisah Mardiyem dalam cerpen Manusia dalam Gelas Plastik—yang menjadi judul besar buku ini. Di sana, Fandy berkisah soal tragedi seorang perempuan tua yang harus hidup menggelandang di jalanan dan bekerja mengumpulkan gelas-gelas plastik bekas minuman mineral, karena ditelantarkan anak dan menantunya yang kaya.
…Sebab saya punya misi untuk mengangkat mereka. Mereka terkadang terlupakan, terpinggirkan, dan cenderung diabaikan. Bukan hanya dari kenyataan, bahkan dalam ranah fiksi sekalipun. Kebanyakan kita menganggap air mata dan kesedihan adalah wujud emosional manusia yang paling lemah. Padahal, jika kita lebih objektif lagi, air mata dan kesedihan itu juga perlawanan. Ya, perlawanan minimal manusia yang sudah tidak punya daya melawan dengan amarah.






