Bertamu ke Kelurahan Lenteng Agung

Lurah Susan/Fandy Hutari

Juhali (65) sedang duduk dan ngobrol-ngobrol di sebuah gardu kecil, Jalan Agung Raya, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, dengan tiga orang warga saat saya menghampirinya. Pria kurus yang seluruh rambutnya sudah memutih ini, berkisah sedikit soal Lurah Lenteng Agung, Susan Jasmine Zulkifli Kaunang.

“Dia bagus. Sama masyarakat juga bersatu gitu. Seperti kerja bakti, dia selalu meninjau ke RT-RT,” kata pensiunan PNS ini.

Saya pun mengunjungi kantor Kelurahan Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Saat itu, lurah yang mendadak populer karena aksi demo sejumlah orang pada September 2013 lalu ini, tengah sibuk membereskan pekerjaannya. Ia sedang memberikan tanda tangan ke tumpukan dokumen warga yang mengajukan perpanjangan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Susan bilang, pagi itu ia dan lurah-lurah di DKI Jakarta dikumpul, untuk diberi pengarahan soal aparat yang bersih di kantor pajak DKI Jakarta.

Susan adalah satu dari 267 lurah yang lolos seleksi lelang jabatan lurah dan camat di lingkungan Pemda DKI Jakarta. Dengan senyumannya, lurah cantik ini mengatakan, sebelum memberi tindak nyata ke warganya ia akan memberi contoh terlebih dahulu.

“Saya pastinya ke dalam dulu, ke lingkungan saya dulu kelurahan. Lingkungan pasti, kebersihan pasti, penghijauan. Tapi saya menjaga kebersihan dulu di kantor. Dari dalam dulu. Kita bersih dulu, baru nanti kita cuap-cuap di RT dan RW untuk tindak lanjut,” kata perempuan kelahiran 3 April 1970 ini.

Di tengah wawancara, seorang warga menemui Susan, untuk memberikan surat keterangan kematian. Setelah bertanya beberapa hal soal keterangan surat tersebut, Susan membubuhkan tanda tangannya. Dengan sigap, perempuan yang memiliki satu anak ini melayani warganya.

Getek, dan tong plastik untuk filterisasi sampah/Andrey Gromico.
Getek, dan tong plastik untuk filterisasi sampah/Andrey Gromico.

Penghijauan, menurut Susan, merupakan terobosannya di Kelurahan Lenteng Agung. Meski ia merendah.

“Saya kerja sama dengan Kopasus masalah penghijauan. Selama saya di sini, saya dapat 2.000 tanaman. Saya mencari sesuatu untuk warga, jadi dari penghijauan itu dikasih tanaman buah-buahan yang produktif,” kata Susan yang sebelumnya mengabdikan diri sebagai staf di lingkungan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sulawesi Selatan selama lebih dari 20 tahun.

Sesaat kemudian, seorang staf Susan masuk dan memberikan beberapa lembar arsip surat Kepala Keluarga (KK). Lalu, Susan bercerita soal ruangan di kelurahan yang dirombak habis di masa kepemimpinannya.

“Nah, ruangan di bawah itu (Ruang Pelayanan Umum) termasuk gebrakan saya. Tadinya ruangannya kecil,” kata Susan.

Ketika saya pertama kali ke Kelurahan Lenteng Agung, Rabu (4/12/2013) memang suasana dan kondisinya sangat baik, terawat, dan nyaman. Ruang Pelayanan Umum luas, berpendingin ruangan, dan lengkap. Kelurahan ini terdiri atas empat lantai. Seluruh ruangan untuk pelayanan masyarakat ber-AC dan tertata rapi. Disinggung masalah birokrasi, Susan menegaskan ia tak pernah mempersulit warganya.

“Untuk birokrasi saya cepat sih. Istilahnya saya di sini tidak memperlambat ya. Mempersulit, nggak. Yang penting itu, arsipnya jelas dan komplit dan saya ada di tempat, langsung biasanya cepat,” kata lulusan Administrasi Negara Universitas Indonesia tahun 1997 ini.

Susan mengatakan, kantornya terbuka untuk melayani masyarakat mulai pukul 07.30 WIB sampai 16.00 WIB.

“Kadang saya di kantor sampai jam 8 (malam), kadang jam 7 (malam), kadang jam 9 (malam). Ada saja. Kadang ada tamu. Selain itu, kita nunggu, siapa tahu nanti ada undangan mendadak. Kadang ada sih rapat mendadak dari walikota, kaya waktu itu rapat kordinasi jam setengah 8 (malam),” kata Susan yang pernah menjadi Kepala Seksi Sarana dan Prasarana di Kelurahan Senen, Jakarta Pusat pada 2012.

Ia terkadang suka blusukan tanpa terlebih dahulu berkordinasi dengan RT dan RW di lingkungannya.

“Saya suka blusukan diem-diem, makanya kadang RW marah sama saya, kenapa saya nggak bilang dulu. Ya, kalau bilang bukan sidak namanya,” kata Susan, diiringi tawa.
Peraih penghargaan Pengabdian Bidang Pluralisme dari GP Ansor dan Taruna Merah Putih pada 10 November 2013 dan Satyalancana Karya Satya ini mengatakan, dirinya selalu sigap jika ada laporan dari warga.

“Kalau ada laporan, saya jalan. Kemarin ada perbaikan jalan, lapor pak RT-nya. Terus saya turun. Ada laporan dari warga, saya turun melihat. Atau nggak saya jalan saja nih ke belakang nih. Kadang saya boncengan naik motor, saya lihat wilayah,” katanya.

Di meja kerjanya, tertempel dua buah sticker antikorupsi, dan satu buah kaus antikorupsi berwarna hijau dan bergambar tikus yang terpampang di sandaran kursinya. Seolah mengingatkan dirinya untuk tidak korupsi.

“Anggaran Pemda sekitar 4 miliar. Anggaran diprioritaskan untuk operasional setiap tiga bulan di RT dan RW,” katanya.

Salah satu wujud nyata untuk meminimalisir sampah, di RW 08 di lingkungan Kelurahan Lenteng Agung ada bank sampah.

“RW 08 ada bank sampah. Ada juga kerajinannya. Mereka mengumpulkan plastik-plastik. Nanti didaur ulang. Sisa-sisa sampah koran dijadikan patung seperti ini,” ia menunjukkan kreasi warganya yang membuat patung meja kecil dari sampah kertas koran. “Dari sisa sampah bisa juga dibikin kompos,” kata perempuan yang ketika bertugas di Senen memiliki kebiasaan unik, kerap menjinjing plastik kresek berisi dompet, tisu, dan gadget miliknya.

Susan menunjukkan beberapa program kerjanya yang sudah terealisasi di bulan-bulan sebelumnya, dalam sebuah dokumen yang dijilid paper klip. Ada banyak dokumentasi foto dan keterangan di laporan program kerjanya. Ia memang rajin sekali mendokumentasikan itu. Beberapa program kerjanya yang sudah terealisasi adalah, pembenahan Stasiun Lenteng Agung dari sampah puing-puing bangunan, kerja bakti kali Ciliwung, pembangunan jembatan RW 05, dan penghijauan.

Saya menelusuri daerah Lenteng Agung hingga ke sudut-sudutnya. Sesampainya di pinggir kali Ciliwung yang membelah Tanjung Barat dan Lenteng Agung, saya melihat pemandangan yang tak biasa. Ada tong-tong plastik dan jala yang berfungsi untuk menjaring sampah yang melintasi sungai berwarna cokelat itu. Di atasnya, ada tali tambang yang melintas ke seberang. Tepat di seberang, terdapat markas Kopasus. Ada juga sebuah getek sederhana dari bambu untuk melintas warga yang ingin menyeberang.

Menurut keterangan warga, getek itu dimanfaatkan untuk menyeberang ke markas Kopasus. Banyak warga yang bekerja sebagai buruh cuci, dan alat transportasi air yang sangat sederhana itu sudah sangat membantu mereka.

Sore makin menggelayut. Saya meninggalkan Lenteng Agung, dan sejuta pekerjaan Lurah Susan di sana.

Tulisan ini pernah dimuat di Geotimes dalam bentuk straight news. Saya mengedit tulisan yang dibuat 3 tahun lalu, saat Susan Jasmine Zulkifli masih menjabat sebagai Lurah Lenteng Agung. Saat ini, Susan menjadi Lurah Gondangdia, Jakarta Pusat.

LEAVE A REPLY