Bedah Buku Sandiwara dan Perang di Pro 1 RRI Jakarta

Pada 11 April 2015 lalu, buku Sandiwara dan Perang dibedah di siaran Cakrawala Pustaka Pro 1 RRI Jakarta. Berikut ini petikan wawancaranya.

Bagaimana ceritanya hingga dirimu memilih untuk menuliskan buku ini?

Ini sebenarnya skripsi saya. Dari Jurusan Sejarah Unpad waktu itu tahun 2007. Saya lihat teater itu unik. Jarang yang menulis sejarah teater terutama yang dihubungkan sama politik. Makanya diambil tema itu, untuk diangkat jadi skripsi. Kemudian saya bukukan waktu tahun 2009. 2009, (lalu) habis kontrak sama penerbit di Yogyakarta, tahun ini diterbitkan ulang, dengan penerbit yang berbeda.

Jadi ini dulu sudah pernah diterbitkan. Kemudian, apakah hanya terbatas di Yogya saja atau bagaimana?

Tidak. Indonesia.

Ada proses penyesuaian tidak sih, dari skripsi kemudian diangkat menjadi buku ini?

Ada, Mas. Kalau skripsi itu kan terlalu baku ya. Dia bahasanya ilmiah gitu. Saya jadikan (bahasanya) populer untuk bisa dinikmati siapapun. Terus penambahan gambar (foto) juga ada. Terus, konsep dalam skripsi dan buku kan beda. Jadi, dirombak ulang juga.

Kenapa di zaman Jepang ini yang dijadikan bahasan? Atau karena di zaman Jepang propaganda di panggung sandiwaranya benar-benar mempunyai nilai yang sangat luar biasa sehingga ini diangkat?

Menariknya, teater zaman Jepang itu tumbuh dan menjamur di mana-mana. Karena, didukung sekali oleh (kebijakan) pemerintah. Tujuannya untuk propaganda perang Asia Timur Raya.

Untuk (membuat) ini, melakukan risetnya seperti apa?

Studi pustaka.

Itu dari mana saja sampai bisa menemukan, apakah dari naskah-naskah sandiwara tersebut atau bagaimana?

Terutama surat kabar, seperti majalah, dokumentasi zaman Jepang. Saya risetnya di Perpustakaan Nasional. Dan itu sumbernya banyak yang tidak terawat. Jadi, agak sulit juga untuk “mengangkat” ini. Sekitar 6 bulan lebih waktu itu risetnya.

Berarti proses propaganda Jepang di dunia sandiwara, itu dimulai dari tahun berapa sampai tahun berapa?

Tahun 1942 sampai 1945. Tiga tahun.

Dalam kurun waktu tiga tahun, apakah sandiwara ini punya style-style tersendiri atau seperti apa?

(Temanya) mereka terutama mengedepankan tema-tema yang berbau pengorbanan, terus cinta tanah air. Di arahkan ke perekrutan Romusha, dan lain-lain. Untuk doktrinasi pikiran.

Kalau kita masuk ke dalam konten buku ini, seperti apa mas menceritakannya?

Sandiwara dikendalikan oleh lembaga yang namanya Keimin Bunka Shidosho, mereka ada bagiannya, salah satu bagiannya ada bagian sandiwara. Terus Sendenbu, organisasi propaganda. Tujuannya untuk mensensor naskah-naskah yang akan dipertunjukan. Masa-masa akhir pendudukan Jepang dibentuk yang namanya Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa. Dia merekrut banyak perkumpulan sandiwara untuk tujuan propaganda.

Berarti di Indonesia sendiri sebelum masuknya Jepang, apakah sudah banyak perkumpulan sandiwara?

Ada mas. Dia mulai tahun 1800-an akhir. Namanya Komedi Stamboel, itu masuk ke Indonesia. Nah, itu cikal bakalnya teater modern di Indonesia. Waktu zaman Belanda ada perkumpulan ada Dardanella. Itu yang paling terkenal waktu zaman Belanda.

Kalau Anda mau memesan buku Sandiwara dan Perang, Anda bisa memesan secara online. Di mana itu?

Di www.bukuindie.com.

Banyak hal sebenarnya yang bisa kita lihat, yang mungkin selama ini kita belum sempat menengok sejarah di zaman tahun 1942 sampai 1945. Di buku ini juga dilengkapi dengan gambar-gambar. Termasuk juga buku Panggoeng Giat Gembira. Ini buku tentang apa sebenarnya?

Itu naskah sandiwara humor. Jadi menariknya di zaman Jepang ini, mulai ada naskah sandiwara tapi berbau humor. Jadi biasanya perannya ada satu orang yang “bodoh”. Satu perwakilan dari Jepang, misalnya tentara atau pemimpin perang. Satu masyarakat biasa. Dan satu lagi yang menarik itu ada sandiwara radio.

Bentuk-bentuk sandiwara di kala itu, ada apa saja sih mas?

Ada sandiwara radio, naskah, panggung.

Kontrol pemerintah Jepang kepada sandiwara itu sendiri waktu itu seperti apa?

Diawasi dari organisasi yang namanya Sendenbu. Dia bersinergi sama Keimin Bunka Shidosho. Terus, ada yang menarik kalau misalkan ada perkumpulan sandiwara yang mementaskan naskah tidak disensor dulu sama Sendenbu. Jadi kalau kita mau manggung, naskah harus diserahkan dulu ke Sendenbu. Kalau sudah beres disensor, baru boleh di pertunjukan. Nah, ada waktu itu di Semarang. Namanya Kamadjaja. Dia wartawan juga. Nama (perkumpulan) sandiwaranya (Angkatan Muda) Matahari) kalau tidak salah. Mereka belum ngasih naskah itu. Jadi setelah pertunjukan ada Kempeitei. Akhirnya dipanggil. Dan orangnya yang mempertunjukan itu dipukul. Jadi kekerasan fisik juga ada di situ.

Apakah di buku ini juga dituangkan nama-nama populer, apakah itu aktrisnya, sutradara, penulis naskah sandiwara itu?

Salah satunya Usmar Ismail yang kita tahu dia Bapak Film Nasional. Dia punya perkumpulan, namanya Sandiwara Penggemar Maya. Nah, itu dia berani keluar dari pakem propaganda dan menyusupkan pesan-pesan kemerdekaan dalam naskah-naskahnya.

Kesulitan apa yang dihadapi ketika menulis buku ini?

Keterbatasan data. Sepanjang riset, kesulitannya ada naskah yang sobek. Terus ada yang hilang juga.

Kalau ingin mendapatkan buku Sandiwara dan Perang di mana?

Di www.bukuindie.com atau di Facebook Indie Book Corner.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY