Jakarta, dengan geliat pembangunannya yang angkuh, seakan berlomba-lomba membangun gedung bertingkat. Gaya hidup masyarakat serba modern yang saling memengaruhi, turut menggeser arsitektur tradisional rumah Betawi. Anda pasti pernah menonton sinetron “Si Doel Anak Sekolahan” yang sangat digemari di awal 1990. Di sinetron itu, Anda pasti melihat sebuah rumah tradisional Suku Betawi, milik keluarga Doel. Rumah yang memiliki ciri khas beranda di depannya, dengan jendela kayu dan pagar berukir khas.
Saat ini, kecuali di daerah-daerah tertentu pinggiran Jakarta, mungkin akan sulit menemukan rumah bergaya arsitektur Betawi. Banhart C.L. dan Jess Stein, dikutip Irawan Maryono dalam bukunya Pencerminan Nilai Budaya Dalam Arsitektur di Indonesia (1985: 18), menjelaskan bahwa arsitektur adalah seni dalam mendirikan bangunan, di dalamnya termasuk segi perencanaan, konstruksi, dan penyelesaian dekorasi.
Arsitektur dikatakan tradisional, jika bentukannya diturunkan secara turun temurun. Dari generasi ke generasi. Begitu kata penulis buku House, Form, & Culture Amos Rapoport. Arsitektur adalah salah satu wujud hasil kebudayaan. Bentuk arsitektur sebuah bangunan, tak bisa lepas dari situasi masyarakat pendukung dan keadaan lingkungannya.
Arsitektur rumah Betawi

Menurut budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra, yang terpenting dari rumah Betawi adalah bagaimana rumah ini berfungsi dan bermanfaat, terutama dikaitkan dengan lingkungan sekitar. “Artinya, rumah dan sekitarnya tidak hanya memberi manfaat bagi penghuninya, namun juga kepada masyarakat,” kata Yahya dihubungi beberapa waktu lalu.
Yahya mengatakan, setiap rumah Betawi umumnya terbuka dan pembagian ruangnya tidak rumit. Pembagian ruang rumah Betawi, antara lain beranda, ruang tengah, kamar di sekitar ruang tengah, dan dapur. Yahya menuturkan, masyarakat umum mengenal tiga jenis arsitektur rumah Betawi, yakni joglo, kebaya atau bapang, dan gudang. “Ada satu lagi yang kurang dikenal, yaitu potongan rumah jengki.” Secara umum, rumah Betawi memiliki struktur rangka kayu, beralas tanah yang diberi lantai semen.
Menurut salah satu penulis buku Rumah Etnik Betawi (2014), Doni Swadarma, ada berbagai unsur yang ikut memoles arsitektur rumah Betawi. “Unsur budaya Cina sangat dominan terhadap arsitektur rumah Betawi. Ada pula unsur Arab, Jawa, Melayu, dan etnik Nusantara lainnya,” kata Doni saat dihubungi beberapa waktu lalu. Jenis arsitektur rumah Betawi yang sudah disebutkan di atas, memiliki ciri khas tersendiri.
Dari buku Rumah Etnik Betawi (2014: 34), disebutkan rumah joglo mendapat pengaruh dari etnis Jawa. Ciri khasnya, bentuk atap seperti limas yang menjulang ke atas berada di tengah bangunan, denah berbentuk bujur sangkar, dan bagian depan ruang luas tanpa sekat. Salah satu perbedaan dengan rumah joglo Jawa adalah, bagian atap yang menjulang di joglo Jawa hanya bagian pendoponya saja yang menjulang (2014: 37-38).
Masih dari buku yang sama, rumah gudang memiliki ciri khas, berbentuk segi empat memanjang ke belakang, atapnya mirip pelana atau perisai, di bagian depan ada tambahan berupa markis . Disebutkan dalam buku itu (2014:39) rumah gudang terpengaruh oleh budaya Cina dan Belanda. Sedangkan rumah kebaya atau bapang memiliki ciri, atap mirip pelana tapi hanya di bagian tengah rumah, serta bagian depan dan belakang ditambahkan terusan serondoyan (2014: 41).
Di buku itu, ada tambahan satu jenis arsitektur rumah Betawi, yakni rumah panggung. Rumah ini memiliki ciri, berdiri di atas fondasi umpak , di atas fondasi umpak ada tiang kayu sebagai penyangga, dan terdapat bagian anak tangga (2014: 43). Doni Swadarma menyebutkan, pengaruh Cina di rumah Betawi ada di bagian kusen jendela dan jalusinya . “Yang kita kenal sebagai jendela bujang. Cina juga punya kesamaan dengan penggunaan bahan kayu nangka sebagai bahan utama,” kata Doni.
Unsur Arab, kata Doni, ada di bagian ornamen-ornamennya. Lalu, lanjut Doni, unsur Melayu ada di bagian lisplangnya . “Yang kita kenal dengan nama lisplang gigi balang.” Sedangkan unsur Jawa ada dibentuk atapnya yang mirip rumah joglo. Yahya Andi Saputra mengatakan, jika dikaitkan dengan ornamen, setiap rumah tentu memiliki sinambungan pemahaman turun temurun. “Ornamen gigi balang bermula dari bentuk tumpal yang bersumber dari pemahaman bentuk gunung. Gunung dimaknai oleh orang Betawi memiliki kekuatan, kekokohan, dan keanggunan,” kata dia.
Sedangkan ornamen yang menunjukan aneka tumbuhan atau flora, semisal kembang melati, kata Andi, melambangkah keharuman budi. “Cempaka biasanya diartikan kesantunan dan keterbukaan, bunga matahari atau menjadi bentuk sinar matahari terbit melambangkan siklus hidup, dan sebagainya.” Bentuk ornamen langjan tumpal, botol, dan lain-lain, menurut Andi, memiliki makna kokoh dan teguh pendirian.
Ada pantangan dan aturan
Seperti halnya tradisi adat lain di Nusantara, membangun rumah bergaya Betawi pun ada pantangan dan aturannya. Pantangan dan aturan itu ada yang bersifat umum, menyangkut lingkungan sekitar, dan ada yang bersifat khusus, terkait bangunannya.
Menurut portal resmi Provinsi DKI Jakarta, Jakarta.go.id, hal-hal yang sifatnya umum, yakni tak boleh membangun di atas tanah yang “dikeramatkan”, dan untuk anak yang sudah berkeluarga harus membangun rumah di sebelah kiri rumah orangtua. Sedangkan yang sifatnya khusus, yakni kayu nangka tak boleh dibuat di bagian bawah kusen pintu, kayu cempaka dibuat di bagian kusen atas pintu, kayu asem tak boleh dijadikan bahan bangunan, tak boleh membuat atap rumah dari tanah, dan pemilik tak boleh menempati rumah yang belum ada jendela dan pintunya.
Tujuan pantangan dan aturan ini agar pemilik rumah memperoleh keselamatan di rumahnya dan selalu dapat sesuatu yang baik di kehidupannya. Saya sempat menyambangi Setu Babakan di Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, yang dikenal sebagai kampung budaya Betawi. Ada beberapa contoh rumah asli Betawi di sana. Tapi, sekitar objek wisata budaya itu, sudah jarang ditemukan rumah berarsitektur Betawi yang benar-benar murni. Beberapa rumah memang meninggalkan ciri khas arsitektur Betawi, tapi bagian-bagian bangunan lainnya sudah dimodifikasi menjadi lebih modern. “Rumah orang sini, ya begini sekarang,” kata salah seorang warga Setu Babakan.
Apa yang salah?
Menurut Yahya, rumah berarsitektur Betawi masih bisa ditemui di beberapa titik di Jakarta dan sekitarnya, selain di Setu Babakan, meski jumlahnya tidak banyak. “Di Condet masih bisa kita temui. Juga di Kampung Dukuh, kawasan Mampang, Tegal Parang, Cipete, dan Kwitang. Jika kita keliling ke Pondok Gede, Malaan di Tangerang, Bekasi, Depok, kadang masih banyak yang memeliharanya dengan baik,” kata dia.
Sedangkan Doni menyebut, rumah arsitektur Betawi bisa juga dijumpai di kampung Cina Benteng Tangerang, dan Pondok Aren Tangerang. Doni juga mengatakan, orang Betawi yang merantau kadang mendirikan rumah Betawi di daerah rantauannya. “Baru-baru ini saya ditelepon oleh perantau Betawi yang bermukim di Garut. Dia ingin dibuatkan rumah Betawi modern sebanyak tiga unit, berikut majlis taklimnya untuk tinggal anak anaknya,” kata Doni.
Doni mengatakan, masyarakat Betawi mulai meninggalkan gaya arsitektur tradisional mereka lantaran mereka lebih tertarik dengan model rumah modern, seperti minimalis. Tapi, Yahya punya pandangan berbeda. Menurut asumsinya, minat masyarakat Betawi masih kuat untuk mendirikan kediaman dengan arsitektur mereka. “Hanya saja, biaya bikin rumah tradisional sangat mahal, terutama material kayu.
Kedua, memang tukang atau ahli bangunannya sudah amat langka. Tidak semua tukang yang ada saat ini memahami atau mampu membuat ornamen tradisional,” kata Yahya. Membangun rumah tradisional ini memang membutuhkan materi yang kini mungkin sudah sangat sulit didapatkan, seperti kayu sawo, kayu kecapi, ijuk, rumbia, dan kayu nangka.
“Saat ini, kalau orang Betawi mau bikin rumah, ya tergantung dari minatnya atas arsitektural yang ada. Mereka masih memanfaatkan kombinasi tradisi dan modern. Misalnya, karena luas tanah yang dimilikinya terbatas, maka gaya minimalis jadi pilihannya,” kata Yahya. Pernyataan Yahya ini senada dengan pendapat Guru Besar Ilmu Arsitektur Institut Teknologi Surabaya Josef Prijotomo.
Dikutip dari ranahberita.com (20/4/2014), Josef mengatakan ilmu arsitektur bangunan rumah adat di Indonesia nyaris punah. Akibatnya, budaya menjadi profesionalitas dan menyebabkan biaya pembangunan menjadi mahal. Josef menduga, awal abad 20 pengetahuan masyarakat soal cara membangun rumah adat di Jawa sudah punah. Eksistensi tukang bangunan tradisional, kata Josef, tidak diakui, karena sistem proyek dari pemerintah.
Sistem ini tidak pas dengan sistem proyek tukang tradisional tadi. Menurut Josef, hampir punahnya pengetahuan masyarakat tentang cara membangun rumah adat disebabkan hilangnya budaya masyarakat dalam membangun rumah adat seperti dahulu. Dahulu, masyarakat membangun rumah adat secara gotong royong, mulai dari mencari bahan kayu ke hutan, merancang hingga berdiri.
Sekarang, budaya itu menjadi profesionalitas. Orang yang mempunyai pengetahuan tersebut sangat sedikit. Dia dibayar dengan profesional. Termasuk dalam pengadaan bahan. Yahya mengungkapkan, pemerintah DKI Jakarta memiliki perhatian yang cukup besar pada ornamen rumah tradisional Betawi.
“Waktu Gubernur Jokowi, satu program unggulannya adalah menerapkan ornamen Betawi pada tiap bangunan yang dibangun atau renovasi, khususnya pada bangunan milik pemprov dan BUMN,” kata Yahya. Bahkan, hingga saat ini, menurut Yahya, Ahok—sapaan akrab Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama—masih menjadikan program tadi sebagai program unggulan. “Ya, tentu program ini belum berjalan mulus.”
Rumah arsitektur Betawi seiring zaman, makin berkurang. Orang-orang beralih kebentuk minimalis yang tersentuh arsitektur modern. Padahal, secara fungsi dan keamanan, bangunan rumah tradisional yang banyak bermateri kayu sangat pas dibangun di Indonesia. Indonesia yang berada di wilayah cincin api dan sering dilanda gempa, lebih tahan menggunakan rumah berbahan kayu, dibandingkan beton.
Menjaga kelestarian merupakan kalimat klise pemerintah soal budaya. Namun, ada benarnya. Jangan sampai di masa depan, orang Betawi hanya bisa melihat hasil kebudayaan nenek moyang mereka hanya di objek wisata budaya, seperti Taman Mini Indonesia Indah dan Setu Babakan [].
Artikel ini dimuat pertama kali di Majalah Mata Jendela Volume XI Nomor 2/2015







rumah joglo rumah idaman sepanjang zaman