Stasiun Tebet, Jakarta Selatan, menunjukan geliat yang sangat sibuk
pagi itu. Stasiun yang hanya punya dua jalur rel ini memang menjadi tempat
singgah para pekerja dari dalam dan wilayah sekitar Jakarta [Depok dan Bogor].
Kereta komuter dan kereta api ekonomi silih berganti menurunkan penumpang di
stasiun ini. Stasiun yang berada dekat terminal Kampung Melayu ini letaknya
strategis. Tak heran para stasiun ini selalu sibuk dengan rutinitas para
pekerja yang berkantor di daerah Casablanca, Kuningan, Kampung Melayu, dan
sekitarnya.
pagi itu. Stasiun yang hanya punya dua jalur rel ini memang menjadi tempat
singgah para pekerja dari dalam dan wilayah sekitar Jakarta [Depok dan Bogor].
Kereta komuter dan kereta api ekonomi silih berganti menurunkan penumpang di
stasiun ini. Stasiun yang berada dekat terminal Kampung Melayu ini letaknya
strategis. Tak heran para stasiun ini selalu sibuk dengan rutinitas para
pekerja yang berkantor di daerah Casablanca, Kuningan, Kampung Melayu, dan
sekitarnya.
Wajah Stasiun Tebet berbeda
dengan penampilannya beberapa tahun silam. Ada 6 loket, namun 3 yang aktif
melayani penumpang. Lalu, kita harus melewati pintu-pintu berpalang besi [electronic gate], yang harus ditempelkan
kartu pintar [tiket elektronik berwarna putih tebal] terlebih dahulu agar plang
besi bisa tergeser. Beberapa petugas keamanan berseragam biru gelap dan berhelm
putih pun siap siaga di mulut pintu-pintu tersebut. Persis di atas pintu-pintu
tadi, terdapat dua kipas angin listrik yang tergantung di tiang besi. Kesan
bersih, rapi, dan teratur akan kita jumpai jika kita sudah masuk ke dalam, ke
pinggir rel tempat kereta menurunkan dan menaikkan penumpang. Tak ada pedagang
di dalam stasiun. Beberapa orang petugas keamanan berseragam biru gelap dan
berhelm putih juga kerap mondar-mandir di lingkungan stasiun.
dengan penampilannya beberapa tahun silam. Ada 6 loket, namun 3 yang aktif
melayani penumpang. Lalu, kita harus melewati pintu-pintu berpalang besi [electronic gate], yang harus ditempelkan
kartu pintar [tiket elektronik berwarna putih tebal] terlebih dahulu agar plang
besi bisa tergeser. Beberapa petugas keamanan berseragam biru gelap dan berhelm
putih pun siap siaga di mulut pintu-pintu tersebut. Persis di atas pintu-pintu
tadi, terdapat dua kipas angin listrik yang tergantung di tiang besi. Kesan
bersih, rapi, dan teratur akan kita jumpai jika kita sudah masuk ke dalam, ke
pinggir rel tempat kereta menurunkan dan menaikkan penumpang. Tak ada pedagang
di dalam stasiun. Beberapa orang petugas keamanan berseragam biru gelap dan
berhelm putih juga kerap mondar-mandir di lingkungan stasiun.
Fasilitas
seperti toilet gratis, keadaannya bersih dan terawat. Begitu pula sebuah
mushola kecil yang ada persis di sebelah toilet perempuan. Ada lima stop
kontak, tempat mengisi batere telepon seluler gratis di dekat mushola. Beberapa
pot kecil berisi tanaman tergantung di pagar yang membatasi stasiun. Beberapa
tong sampah juga berjajar dekat kursi-kursi besi, tempat para penumpang
menunggu kereta mereka. Di dalam stasiun, tak ada pula yang merokok. Beberapa
papan peringatan larangan merokok tertempel di dalam stasiun. Peringatan
larangan merokok dan membuang sampah sembarangan dari petugas lewat mikrofon
kerap terdengar.
seperti toilet gratis, keadaannya bersih dan terawat. Begitu pula sebuah
mushola kecil yang ada persis di sebelah toilet perempuan. Ada lima stop
kontak, tempat mengisi batere telepon seluler gratis di dekat mushola. Beberapa
pot kecil berisi tanaman tergantung di pagar yang membatasi stasiun. Beberapa
tong sampah juga berjajar dekat kursi-kursi besi, tempat para penumpang
menunggu kereta mereka. Di dalam stasiun, tak ada pula yang merokok. Beberapa
papan peringatan larangan merokok tertempel di dalam stasiun. Peringatan
larangan merokok dan membuang sampah sembarangan dari petugas lewat mikrofon
kerap terdengar.
Di kursi besi
jalur kereta menuju Bogor, Eneng dan anak remajanya duduk menunggu kereta tiba.
“Saya kebetulan saja naik kereta, mau ke rumah saudara di Bogor,” katanya.
Eneng mengaku, kebersihan dan pelayanan di Stasiun Tebet sudah baik dari
sebelumnya. Tak lama, kereta yang ditunggunya tiba. Dengan tergesa-gesa, dia
dan anaknya naik. Sehabis turun dari kereta Bogor, Gery Hendrian duduk di kursi
besi panjang. Pemuda ini sudah sejak 2002 lalu menggunakan jasa kereta.
“Sering. Untuk ke Bogor dan ke Jakarta,” kata pemuda kurus, yang pagi itu mengenakan
sweater hitam. Gery melihat, banyak perubahan di Stasiun Tebet ini. “Sekarang
sih nyaman. Fasilitas juga baik. Dulu mah suka ada [pedagang dan pengamen] yang
naik-naik, sekarang sudah nggak,” ujarnya.
jalur kereta menuju Bogor, Eneng dan anak remajanya duduk menunggu kereta tiba.
“Saya kebetulan saja naik kereta, mau ke rumah saudara di Bogor,” katanya.
Eneng mengaku, kebersihan dan pelayanan di Stasiun Tebet sudah baik dari
sebelumnya. Tak lama, kereta yang ditunggunya tiba. Dengan tergesa-gesa, dia
dan anaknya naik. Sehabis turun dari kereta Bogor, Gery Hendrian duduk di kursi
besi panjang. Pemuda ini sudah sejak 2002 lalu menggunakan jasa kereta.
“Sering. Untuk ke Bogor dan ke Jakarta,” kata pemuda kurus, yang pagi itu mengenakan
sweater hitam. Gery melihat, banyak perubahan di Stasiun Tebet ini. “Sekarang
sih nyaman. Fasilitas juga baik. Dulu mah suka ada [pedagang dan pengamen] yang
naik-naik, sekarang sudah nggak,” ujarnya.
Sayangnya,
langit-langit tepat di atas loket stasiun jebol. Jadwal pemberangkatan juga
masih disediakan secara konvensional, dengan sebuah spanduk besar berwarna
putih dekat loket. Dan, tak ada tempat untuk parkir kendaraan di stasiun ini.
Jika kita ingin memarkir kendaraan, kita harus memarkirnya di sebuah halaman
bangunan di sebelah selatan stasiun. Di luar, tepat di depan stasiun, juga terkesan
tak teratur. Di depan stasiun ini selalu saja terjadi kepadatan lalu lintas,
lantaran mikrolet, kopaja, bajaj, dan tukang ojek saling berebut penumpang yang
baru saja keluar dari stasiun. Keadaan Stasiun
Manggarai, Jakarta Selatan, jauh lebih baik. Salah satu stasiun kereta rel
listrik terbesar di Jakarta ini punya lahan parkir yang lumayan luas. Loket di
stasiun ini ada tiga. Sedangkan pintu-pintu untuk akses keluar dan masuk
penumpang ada 6. Stasiun ini sudah menggunakan layar datar yang ada di atas
kiri-kanan loket, untuk informasi jadwal pemberangkatan kereta. Petugas
keamanannya juga terbilang banyak. Di dalam stasiun, kita akan menjumpai dua
mesin ATM, Bank DKI dan ATM Bersama. Lalu, agak ke dalam, ada dua minimarket
yang bisa kita jumpai.
langit-langit tepat di atas loket stasiun jebol. Jadwal pemberangkatan juga
masih disediakan secara konvensional, dengan sebuah spanduk besar berwarna
putih dekat loket. Dan, tak ada tempat untuk parkir kendaraan di stasiun ini.
Jika kita ingin memarkir kendaraan, kita harus memarkirnya di sebuah halaman
bangunan di sebelah selatan stasiun. Di luar, tepat di depan stasiun, juga terkesan
tak teratur. Di depan stasiun ini selalu saja terjadi kepadatan lalu lintas,
lantaran mikrolet, kopaja, bajaj, dan tukang ojek saling berebut penumpang yang
baru saja keluar dari stasiun. Keadaan Stasiun
Manggarai, Jakarta Selatan, jauh lebih baik. Salah satu stasiun kereta rel
listrik terbesar di Jakarta ini punya lahan parkir yang lumayan luas. Loket di
stasiun ini ada tiga. Sedangkan pintu-pintu untuk akses keluar dan masuk
penumpang ada 6. Stasiun ini sudah menggunakan layar datar yang ada di atas
kiri-kanan loket, untuk informasi jadwal pemberangkatan kereta. Petugas
keamanannya juga terbilang banyak. Di dalam stasiun, kita akan menjumpai dua
mesin ATM, Bank DKI dan ATM Bersama. Lalu, agak ke dalam, ada dua minimarket
yang bisa kita jumpai.
Kebersihan
di sekitar peron pun terbilang baik. Beberapa pot tanaman juga bisa kita jumpai
di peron-peronnya. Stasiun ini benar-benar steril dari pedagang, pemulung, dan
pengemis. Toilet yang ada di ujung pintu masuk stasiun pun keadaannya bersih.
Stasiun yang mulai dibuka pada 1 Mei tahun 1918 ini memiliki 6 jalur, dan
melayani kereta komuter tujuan Bogor, Depok, Jatinegara, Jakarta Kota, dan
Bekasi. Bagi para perokok, stasiun ini menyediakan area merokok di sebuah ruang
kecil, antara jalur 4 dan 5. Anton, tengah asyik bermain dengan telepon
selularnya, sembari menunggu kereta di jalur 5. Pria berkacamata ini adalah
warga Bogor yang hampir setiap hari ke Jakarta. “Saya wiraswasta. Ada usaha
kerajinan batu di Jatinegara. Saya sudah dari tahun 1990 [menggunakan kereta],”
katanya. Menurutnya, keadaan Stasiun Manggarai dan beberapa stasiun yang ada di
Jabodetabek sudah bagus, dibanding sebelumnya. “Tidak ada pedagang, itu lebih
bagus karena mereka mengganggu kenyamanan. Toilet yang tadinya harus bayar,
sekarang gratis, sudah bagus,” ungkapnya. Namun, di balik pujiannya tadi, Anton
menyimpang kekesalan dan kecewa. “Masih banyak yang berantakan, seperti
keterlambatan kereta. Harus ada fasilitas menuju sasaran, supaya penumpang
tidak kecewa,” keluhnya. Pengalaman keterlambatan kereta pernah dialami Anton.
Tidak tanggung-tanggung, dia mengaku menunggu kereta dari pukul 20.00 WIB
hingga 23.00 WIB. “Pernah saya sekali waktu, [saya menunggu] dari jam 8 malam
sampai 11 malam,” ucapnya kesal. Selain itu, Anton juga mengeluhkan pendingin
udara di dalam kereta. “Kadang-kadang AC-nya yang jadi masalah [mati]. Sedangkan,
tahu sendiri penumpang Jakarta-Bogor kan penuh sekali,” ujarnya.
di sekitar peron pun terbilang baik. Beberapa pot tanaman juga bisa kita jumpai
di peron-peronnya. Stasiun ini benar-benar steril dari pedagang, pemulung, dan
pengemis. Toilet yang ada di ujung pintu masuk stasiun pun keadaannya bersih.
Stasiun yang mulai dibuka pada 1 Mei tahun 1918 ini memiliki 6 jalur, dan
melayani kereta komuter tujuan Bogor, Depok, Jatinegara, Jakarta Kota, dan
Bekasi. Bagi para perokok, stasiun ini menyediakan area merokok di sebuah ruang
kecil, antara jalur 4 dan 5. Anton, tengah asyik bermain dengan telepon
selularnya, sembari menunggu kereta di jalur 5. Pria berkacamata ini adalah
warga Bogor yang hampir setiap hari ke Jakarta. “Saya wiraswasta. Ada usaha
kerajinan batu di Jatinegara. Saya sudah dari tahun 1990 [menggunakan kereta],”
katanya. Menurutnya, keadaan Stasiun Manggarai dan beberapa stasiun yang ada di
Jabodetabek sudah bagus, dibanding sebelumnya. “Tidak ada pedagang, itu lebih
bagus karena mereka mengganggu kenyamanan. Toilet yang tadinya harus bayar,
sekarang gratis, sudah bagus,” ungkapnya. Namun, di balik pujiannya tadi, Anton
menyimpang kekesalan dan kecewa. “Masih banyak yang berantakan, seperti
keterlambatan kereta. Harus ada fasilitas menuju sasaran, supaya penumpang
tidak kecewa,” keluhnya. Pengalaman keterlambatan kereta pernah dialami Anton.
Tidak tanggung-tanggung, dia mengaku menunggu kereta dari pukul 20.00 WIB
hingga 23.00 WIB. “Pernah saya sekali waktu, [saya menunggu] dari jam 8 malam
sampai 11 malam,” ucapnya kesal. Selain itu, Anton juga mengeluhkan pendingin
udara di dalam kereta. “Kadang-kadang AC-nya yang jadi masalah [mati]. Sedangkan,
tahu sendiri penumpang Jakarta-Bogor kan penuh sekali,” ujarnya.
Tanah
Abang terkenal dengan pusat belanja grosirnya Jakarta. Di daerah ini, tepatnya
di Jalan Jatibaru, terdapat sebuah bangunan berwarna hijau pucat. Terdapat dua
akses tangga, dari dua arah berlawanan, yang menuju ke atas bangunan. Bangunan
tersebut adalah Stasiun Tanah Abang. Stasiun ini tampak megah kalau kita
melihat bangunan utamanya. Tangganya yang lumayan tinggi dan agak curam,
sedikit menyulitkan orang, terutama yang sudah lanjut usia, untuk mendaki satu
persatu anak tangga. Di bagian atas, terdapat kantor-kantor staf stasiun, dua
mesin ATM, dan loket-loket berjumlah 16. Terdapat beberapa layar datar yang
menginformasikan jadwal kereta, di atas loket-loket itu. Pintu-pintu menuju
tempat naik kereta berjumlah 6 dan dijaga aparat keamanan. Untuk naik kereta,
kita harus turun tangga lagi ke dua pintu utama, kanan dan kiri. Sayang sekali
toilet sedang rusak dan tidak bisa dipakai. Di peron, masih ada pula beberapa
pedagang yang menjajakan dagangannya, meski terkesan sembunyi-sembunyi. Seorang
pemulung tua juga bebas saja berjalan di rel kereta.
Abang terkenal dengan pusat belanja grosirnya Jakarta. Di daerah ini, tepatnya
di Jalan Jatibaru, terdapat sebuah bangunan berwarna hijau pucat. Terdapat dua
akses tangga, dari dua arah berlawanan, yang menuju ke atas bangunan. Bangunan
tersebut adalah Stasiun Tanah Abang. Stasiun ini tampak megah kalau kita
melihat bangunan utamanya. Tangganya yang lumayan tinggi dan agak curam,
sedikit menyulitkan orang, terutama yang sudah lanjut usia, untuk mendaki satu
persatu anak tangga. Di bagian atas, terdapat kantor-kantor staf stasiun, dua
mesin ATM, dan loket-loket berjumlah 16. Terdapat beberapa layar datar yang
menginformasikan jadwal kereta, di atas loket-loket itu. Pintu-pintu menuju
tempat naik kereta berjumlah 6 dan dijaga aparat keamanan. Untuk naik kereta,
kita harus turun tangga lagi ke dua pintu utama, kanan dan kiri. Sayang sekali
toilet sedang rusak dan tidak bisa dipakai. Di peron, masih ada pula beberapa
pedagang yang menjajakan dagangannya, meski terkesan sembunyi-sembunyi. Seorang
pemulung tua juga bebas saja berjalan di rel kereta.
Di peron yang berjubal orang
siang itu, hanya terlihat beberapa petugas keamanan yang berjaga. Mungkin saja,
karena terlalu banyak orang dan letaknya yang dekat area jual beli, stasiun ini
terkesan kumuh. Di depan stasiun, mata kita akan terpana pada kesemrawutan lalu
lintas, para pedagang yang berjualan di
bahu jalan, parkir liar, dan gerombolan tukang ojek. Pintu akses keluar stasiun
juga kurang praktis. Dari pintu masuk saja, penumpang sudah disiksa dengan
banyaknya anak tangga untuk naik mengantre tiket. Lalu, harus turun kembali
untuk menunggu kereta. Kemudian, jika ingin keluar, harus berjalan sekitar 500
meter dari tangga turun untuk menunggu kereta. Belum lagi, harus menyeberang
rel kereta untuk bisa menuju ke akses pintu keluarnya.
siang itu, hanya terlihat beberapa petugas keamanan yang berjaga. Mungkin saja,
karena terlalu banyak orang dan letaknya yang dekat area jual beli, stasiun ini
terkesan kumuh. Di depan stasiun, mata kita akan terpana pada kesemrawutan lalu
lintas, para pedagang yang berjualan di
bahu jalan, parkir liar, dan gerombolan tukang ojek. Pintu akses keluar stasiun
juga kurang praktis. Dari pintu masuk saja, penumpang sudah disiksa dengan
banyaknya anak tangga untuk naik mengantre tiket. Lalu, harus turun kembali
untuk menunggu kereta. Kemudian, jika ingin keluar, harus berjalan sekitar 500
meter dari tangga turun untuk menunggu kereta. Belum lagi, harus menyeberang
rel kereta untuk bisa menuju ke akses pintu keluarnya.
Didi
tengah termenung seorang diri di salah satu kursi plastik berwarna hijau,
tempat penumpang di Stasiun Tanah Abang menunggu. Pria paruh baya ini berasal
dari Rangkasbitung, Banten. Didi sehari-hari bekerja di bengkel milik kakaknya
di bilangan Tamansari, Jakarta Barat. “Saya nggak sering pakai kereta. Kalau
mau pulang saja nengok anak-istri,” katanya. Didi memilih kereta sebagai alat
transportasi ke daerah asalnya karena praktis. “Kalau saya milih kereta api,
jadi dekat [ke rumah], nggak terlalu jauh. Jadi, turun dari kereta api, keluar
langsung naik mobil [angkot]. Praktis,” ujarnya. Kepala rumah tangga dari 5
orang anak ini mengaku, keadaan Stasiun Tanah Abang sudah lebih baik. “Jadi
merokok itu dipantang [imbauan dilarang merokok di stasiun]. Pedagang juga [tidak
boleh masuk] jadi tidak acak-acakan. Ya, lebih nyaman,” ungkapnya. Tapi, sama
halnya dengan Anton, Didi pun mengeluhkan soal jadwal kereta yang sering
terlambat. “Kekuarangannya [armada] kereta. Jadi waktunya lambat, nggak tentu
gitu,” keluhnya. Menurutnya, dahulu keadaannya berbeda. Kata dia, dahulu kereta
hanya terlambat 1 hingga 2 jam saja. “Sekarang nggak. Saya dari jam 1 sampai
jam 4 nunggu ke Rangkas nggak ada,” katanya.
tengah termenung seorang diri di salah satu kursi plastik berwarna hijau,
tempat penumpang di Stasiun Tanah Abang menunggu. Pria paruh baya ini berasal
dari Rangkasbitung, Banten. Didi sehari-hari bekerja di bengkel milik kakaknya
di bilangan Tamansari, Jakarta Barat. “Saya nggak sering pakai kereta. Kalau
mau pulang saja nengok anak-istri,” katanya. Didi memilih kereta sebagai alat
transportasi ke daerah asalnya karena praktis. “Kalau saya milih kereta api,
jadi dekat [ke rumah], nggak terlalu jauh. Jadi, turun dari kereta api, keluar
langsung naik mobil [angkot]. Praktis,” ujarnya. Kepala rumah tangga dari 5
orang anak ini mengaku, keadaan Stasiun Tanah Abang sudah lebih baik. “Jadi
merokok itu dipantang [imbauan dilarang merokok di stasiun]. Pedagang juga [tidak
boleh masuk] jadi tidak acak-acakan. Ya, lebih nyaman,” ungkapnya. Tapi, sama
halnya dengan Anton, Didi pun mengeluhkan soal jadwal kereta yang sering
terlambat. “Kekuarangannya [armada] kereta. Jadi waktunya lambat, nggak tentu
gitu,” keluhnya. Menurutnya, dahulu keadaannya berbeda. Kata dia, dahulu kereta
hanya terlambat 1 hingga 2 jam saja. “Sekarang nggak. Saya dari jam 1 sampai
jam 4 nunggu ke Rangkas nggak ada,” katanya.
Untuk naik kereta rel listrik, kita cukup membeli
kartu pintar elektronik yang bisa berlaku selama 7 hari seharga Rp 5.000. Lalu,
membeli karcisnya. Harga karcis dalam kota Rp 2.000, untuk tujuan Depok dipatok
Rp 3.000. Situasi kereta komuter siang itu, dari Stasiun Tanah Abang pun terasa
lengang. Hanya ada beberapa penumpang yang harus rela berdiri. Namun, tak
terlihat petugas keamanan di dalam kereta. Dari Stasiun Tanah Abang ke Stasiun
Manggarai, kita akan melewati dua stasiun, yakni Stasiun Karet dan Stasiun
Sudirman. Pemandangan biasa, pemukiman kumuh bantaran rel dan kali yang
berwarna cokelat, akan tersaji jika kita memandang keluar. Naik kereta mungkin
salah satu cara bertransportasi untuk berhemat waktu di Jakarta yang setiap
hari didera kemacetan. Waktu tempuh dari stasiun Tanah Abang menuju stasiun
Manggarai kurang dari 10 menit. Bayangkan, jika mengendarai mobil pribadi atau
angkutan transportasi jenis mobil yang menempuh jarak 8 kilometer tersebut. Mobil
pribadi mungkin normalnya sekitar 20 menit. Tapi, itu tidak dihitung dengan
perhentian di lampu lalu lintas atau macet.
kartu pintar elektronik yang bisa berlaku selama 7 hari seharga Rp 5.000. Lalu,
membeli karcisnya. Harga karcis dalam kota Rp 2.000, untuk tujuan Depok dipatok
Rp 3.000. Situasi kereta komuter siang itu, dari Stasiun Tanah Abang pun terasa
lengang. Hanya ada beberapa penumpang yang harus rela berdiri. Namun, tak
terlihat petugas keamanan di dalam kereta. Dari Stasiun Tanah Abang ke Stasiun
Manggarai, kita akan melewati dua stasiun, yakni Stasiun Karet dan Stasiun
Sudirman. Pemandangan biasa, pemukiman kumuh bantaran rel dan kali yang
berwarna cokelat, akan tersaji jika kita memandang keluar. Naik kereta mungkin
salah satu cara bertransportasi untuk berhemat waktu di Jakarta yang setiap
hari didera kemacetan. Waktu tempuh dari stasiun Tanah Abang menuju stasiun
Manggarai kurang dari 10 menit. Bayangkan, jika mengendarai mobil pribadi atau
angkutan transportasi jenis mobil yang menempuh jarak 8 kilometer tersebut. Mobil
pribadi mungkin normalnya sekitar 20 menit. Tapi, itu tidak dihitung dengan
perhentian di lampu lalu lintas atau macet.
Menurut Agus
Komarudin, Kepala Humas Daerah Operasi 1 PT KAI, penataan dan pembenahan
stasiun-stasiun KRL yang ada di Jabodetabek dilakukan untuk meningkatkan
pelayanan dan fasilitas bagi penumpang. “Pembenahan berupa pembongkaran
kios-kios yang sudah habis kontrak untuk peron penumpang, untuk halaman parkir.
Lalu di lingkungan stasiun, seperti larangan penumpang yang naik di atap
kereta, lerangan pedangang [masuk stasiun], larangan merokok, dan kemudahan
integrasi antarmoda transportasi,” kata Agus saat dihubungi, Jumat siang [31/1/2014]. Agus melanjutkan, stasiun KRL di wilayah
Jabodetabek yang dibenahi sebanyak 68 stasiun. “Hingga akhir Desember 2013,
sudah dilakukan pembongkaran 6.777 kios,” ujarnya. Pembenahan stasiun-stasiun
KRL ini sudah dilakukan PT KAI sejak 1 Desember 2012 lalu. “Sebenarnya, target
tuntas sampai dengan akhir Desember 2013. Tapi kan ada tahap-tahap dan
kendala,” tandas Agus.
Komarudin, Kepala Humas Daerah Operasi 1 PT KAI, penataan dan pembenahan
stasiun-stasiun KRL yang ada di Jabodetabek dilakukan untuk meningkatkan
pelayanan dan fasilitas bagi penumpang. “Pembenahan berupa pembongkaran
kios-kios yang sudah habis kontrak untuk peron penumpang, untuk halaman parkir.
Lalu di lingkungan stasiun, seperti larangan penumpang yang naik di atap
kereta, lerangan pedangang [masuk stasiun], larangan merokok, dan kemudahan
integrasi antarmoda transportasi,” kata Agus saat dihubungi, Jumat siang [31/1/2014]. Agus melanjutkan, stasiun KRL di wilayah
Jabodetabek yang dibenahi sebanyak 68 stasiun. “Hingga akhir Desember 2013,
sudah dilakukan pembongkaran 6.777 kios,” ujarnya. Pembenahan stasiun-stasiun
KRL ini sudah dilakukan PT KAI sejak 1 Desember 2012 lalu. “Sebenarnya, target
tuntas sampai dengan akhir Desember 2013. Tapi kan ada tahap-tahap dan
kendala,” tandas Agus.
Hambatan untuk menyelesaikan pembenahan stasiun-stasiun KRL ini,
menurut Agus, datang dari pihak-pihak yang belum paham tujuan PT KAI. “Mereka
[para pedagang] banyak yang belum paham. Alasannya merugikan rakyat kecil. Ada
beberapa LSM juga yang menghalangi,” keluh Agus. Agus bilang, pembenahan yang
dilakukan PT KAI berpengaruh dengan naiknya jumlah penumpang kereta per hari.
Pada 2012, rata-rata penumpang per hari sekitar 400.000 orang. “Tahun 2013,
setelah pembenahan, naik jadi 500.000 per hari. 2014 ini, naik lagi jadi
600.000 per hari,” sebutnya.
menurut Agus, datang dari pihak-pihak yang belum paham tujuan PT KAI. “Mereka
[para pedagang] banyak yang belum paham. Alasannya merugikan rakyat kecil. Ada
beberapa LSM juga yang menghalangi,” keluh Agus. Agus bilang, pembenahan yang
dilakukan PT KAI berpengaruh dengan naiknya jumlah penumpang kereta per hari.
Pada 2012, rata-rata penumpang per hari sekitar 400.000 orang. “Tahun 2013,
setelah pembenahan, naik jadi 500.000 per hari. 2014 ini, naik lagi jadi
600.000 per hari,” sebutnya.
Agus
mengakui, hingga awal 2014 ini, PT KAI belum merampungkan seluruh stasiun KRL
yang rencananya dibenahi. “Penertiban sebenarnya sudah selesai semua, cuma
rekondisi yang belum sempurna,” akunya. Dia mengatakan, penertiban seperti
pedagang yang dahulu berkeliaran di area stasiun sudah dilakukan pihaknya.
Namun, masalah sekitar stasiun, seperti bangunan stasiun yang belum rampung
dikerjakan PT KAI. “Contohnya ya stasiun Parung Panjang [Bogor]. Baru dibangun
pembatas tembok disekitarnya, baru selesai 40 persen,” katanya.
mengakui, hingga awal 2014 ini, PT KAI belum merampungkan seluruh stasiun KRL
yang rencananya dibenahi. “Penertiban sebenarnya sudah selesai semua, cuma
rekondisi yang belum sempurna,” akunya. Dia mengatakan, penertiban seperti
pedagang yang dahulu berkeliaran di area stasiun sudah dilakukan pihaknya.
Namun, masalah sekitar stasiun, seperti bangunan stasiun yang belum rampung
dikerjakan PT KAI. “Contohnya ya stasiun Parung Panjang [Bogor]. Baru dibangun
pembatas tembok disekitarnya, baru selesai 40 persen,” katanya.
Sebenarnya,
kata Agus, upaya pembenahan ini adalah bagian dari target PT KAI di tahun 2018.
“Tujuan meningkatkan kualitas pelayanan, terkait dengan target PT KAI 1,2 juta penumpang
[per hari] di tahun 2018,” ujarnya. Oleh karena itu, kata Agus, pihaknya harus
mempersiapkan segala infrastruktur, termasuk stasiun, dari tahun 2012 lalu.
Terkait penumpang yang kerap mengeluh karena jadwal kedatangan kereta yang
molor, Agus menandaskan, sebenarnya sudah ada 180 kereta baru yang disiapkan. “PT
KCJ [KAI Commuter Jabodetabek] sudah siapkan 180 kereta. 10 rangkaian sedang
diproses sertifikasinya. Nantinya satu rangkaian kereta ada 10 kereta
[gerbong]. 2014 ini, sudah bisa dijalankan. Kereta yang lama-lama akan ditarik
dulu, diganti AC-nya, dan dimasukkan kereta yang baru,” tutup Agus. Ditanya
masalah dana yang dianggarkan untuk menata stasiun-stasiun KRL ini, Agus enggan
menjawabnya. “Wah, kalau masalah itu jangan lah. Jangan ditanya ke saya,”
kilahnya.
kata Agus, upaya pembenahan ini adalah bagian dari target PT KAI di tahun 2018.
“Tujuan meningkatkan kualitas pelayanan, terkait dengan target PT KAI 1,2 juta penumpang
[per hari] di tahun 2018,” ujarnya. Oleh karena itu, kata Agus, pihaknya harus
mempersiapkan segala infrastruktur, termasuk stasiun, dari tahun 2012 lalu.
Terkait penumpang yang kerap mengeluh karena jadwal kedatangan kereta yang
molor, Agus menandaskan, sebenarnya sudah ada 180 kereta baru yang disiapkan. “PT
KCJ [KAI Commuter Jabodetabek] sudah siapkan 180 kereta. 10 rangkaian sedang
diproses sertifikasinya. Nantinya satu rangkaian kereta ada 10 kereta
[gerbong]. 2014 ini, sudah bisa dijalankan. Kereta yang lama-lama akan ditarik
dulu, diganti AC-nya, dan dimasukkan kereta yang baru,” tutup Agus. Ditanya
masalah dana yang dianggarkan untuk menata stasiun-stasiun KRL ini, Agus enggan
menjawabnya. “Wah, kalau masalah itu jangan lah. Jangan ditanya ke saya,”
kilahnya.
Artikel ini dibuat berdasarkan reportase, riset, dan wawancara pada akhir 2013.







sedikit trauma dengan stasiun tebet, karena pernah di copet disana. semoga saat ini kondisinya lebih baik.
lebih baik kok