Refleksi Kerja-Kerja di 2016

Kamar tidur di rumah/Fandy Hutari

2016 saya lalui dengan pengalaman pahit dan menyenangkan, terutama dalam hal kerja-kerja kepenulisan. Banyak sekali yang sudah saya lalui, menghasilkan karya dan bekerja tetap di beberapa tempat.

Awal 2016, saya disibukkan dengan kerja-kerja relawan. Mengurus Reuni Akbar Sastra Unpad 2016. Kerja-kerja ini sudah saya lakukan sejak November 2015. Tugas saya, mengumpulkan karya alumni (berupa buku, CD, lukisan, foto) untuk dipamerkan di Lihat, Baca, Dengar. Saat itu, saya menjadi koordinator pameran karya alumni, menggantikan posisi senior saya yang sakit. Kerja-kerja ini saya lakukan hingga akhir Februari 2016.

Pameran karya alumni Sastra Unpad/Fandy Hutari
Di Blue Stage, bersama tiga panitia lain. Kiri-kanan: Saya, Lewo, Jaka, Ucup/Anonim.

Selama kerja-kerja membantu reuni, saya belum memiliki pekerjaan tetap, setelah memilih hengkang dari sebuah perusahaan media kecil di Jalan Juanda, Jakarta, pada Desember 2015. Awal April, saya diterima di sebuah perusahaan portal berita olahraga. Saya ambil, meski saya akui, tak tahu banyak soal dunia olahraga.

Pekerjaan sebagai penulis olahraga ternyata singkat. Saya terpaksa meninggalkan kantor itu, setelah diberi surat pemutusan kontrak. Kesalahan saya menafsirkan berita olahraga dari media asing menjadi pemicunya. Meski, selama sebulan saya berusaha memperbaiki kesalahan saya, ternyata hal itu tampaknya sudah menjadi dosa yang teramat besar. Inilah hidup…

Tertidur bersama Viriya Paramita (Jakarta Post), Reja Hidayat (Tirto.id), Nuran Wibisono (Tirto.id), Wisnu P Utomo (Remotivi) sehabis nonton final Liga Champions di kafe kopi tempat Putra bekerja/Putra Siregar.

Untung saja, sebuah toko buku online menerima saya. Mereka tertarik menempatkan saya menjadi penulis kanal Seni dan Budaya di situs mereka. Awal Juni, saya bekerja tetap di sana.

Selama 2016, saya menghasilkan 41 artikel yang dipublikasikan di sejumlah media. Artikel-artikel saya dimuat Hipwee, Voxpop.id, Pindai.org, Majalah MyTrip, Koran Tempo, Majalah Mata Jendela, Majalah Basis, Kalatida.com, Selasar.com, Indonesiana Tempo, Minumkopi.com, Mojok.co, Qubicle.id, Diversity.id, dan Mytrip.co.id.

Mas Donny Anggoro, kawan baru di 2016. Berfoto di depan toko musik dan buku yang dijaganya di Blok M Square, Jakarta/Fandy Hutari
Buku saya bisa juga ditemukan di Roundabout Musica di Blok M Square, Jakarta/Fandy Hutari
Novel Sirkus Ilusi terbit Desember 2016/Fandy Hutari.

Terbanyak, artikel saya dimuat Voxpop.id, sebuah situs nyeleneh yang menggunakan bahasa keseharian dan satir. Beberapa media yang saya sebutkan tadi, memang sudah langganan memuat artikel-artikel saya di tahun sebelumnya. Beberapa yang lainnya, baru memuatnya di tahun 2016, seperti Mojok.co, Minumkopi.com, Diversity.id, dan Qubicle.id.

Mojok.co, sebuah situs yang saya tak bisa tembus sejak saya mengirimkan artikel pada 2014 silam. Namun, mereka memuat artikel saya berjudul “Awkarin dan Jaket Jokowi”, ketika jaket yang dipakai Jokowi membuat heboh netizen saat sang Presiden mengenakannya di konferensi pers demonstrasi 211.

Di acara Bulan Bahasa Universitas Negeri Jakarta/Dokumentasi panitia.

Soal Qubicle, beda cerita. Seseorang, menghubungi saya pada November 2016. Ia tertarik memakai jasa saya menjadi kontributor di laman Music Life. Di sana, saya menulis perihal sejarah musik zaman kiwari.

Pada Februari 2016, saya memenangkan lomba menulis “Figur Inspiratif” yang diadakan blog Indonesiana Tempo. Tulisan saya, soal aktivis pendidikan di Jambi, masuk ke dalam 45 tulisan terpilih versi mereka. Lumayan saja, meski hadiahnya berupa smartphone, tulisan saya itu lalu dimuat kembali di Koran Tempo.

Artikel saya untuk kerja lepas di media, terakhir dimuat di Basis. Tulisan itu mengangkat penurunan lukisan di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, pada Agustus lalu.

Di akhir 2016, banyak kisah mengenai buku yang saya tulis. Awal November, saya menghubungi beberapa orang di Yogyakarta, terkait kemungkinan penerbitan beberapa buku saya. Saya mengirim pesan ke salah seorang editor di sebuah penerbit. Dia tertarik menerbitkan naskah saya. Lalu, saya juga menghubungi seorang pemilik penerbitan lain, hasilnya dia juga tertarik menerbitkan novel saya.

23 November saya berangkat ke Yogyakarta. Saya menemui seorang kawan, Aufanuha, yang berkuliah di magister Jurusan Sejarah Universitas Gadjah Mada. Aufan, selama 4 hari di Yogyakarta, menemani saya ke beberapa tempat. Kami mengunjungi Tamansari, nongkrong di Taman Budaya Yogyakarta, mengunjungi kantor Kunci Cultural Studies untuk menemui Mas Antariksa—yang memang sudah lama ingin saya temui—dan beberapa tempat lainnya.

Bersama Aufanuha di Tamansari, Yogyakarta/Tukang parkir.
Di dalam komplek Tamansari, Yogyakarta/Aufanuha

Di Yogyakarta, saya tak mau kehilangan kesempatan untuk menikmati kegemaran saya, mengunjungi beberapa candi. Selain itu, saya berkunjung ke dua kantor penerbitan. Di Sleman, Yogyakarta, saya menemui pihak penerbit yang pada 2011 menerbitkan buku kumpulan artikel saya, Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal. Kami bersepakat menerbitkan kembali buku itu di 2017. Ada banyak tambahan artikel dan revisi dalam buku itu nanti.

Lalu, di Maguwoharjo, Yogyakarta. Saya menemui salah seorang alumni Sastra Unpad yang menjadi pemilik sebuah penerbitan buku. Kami sepakat untuk menerbitkan novel pertama saya—yang pada 2010 pernah saya terbitkan di penerbit lain, dan sudah saya tarik kembali. Novel berjudul Sirkus Ilusi itu terbit pada Desember 2016.

Sampul buku saya terpacak di kantor Insist Press/Fandy Hutari
Bersama Mas Markaban Anwar di kantor Insist Press/Udin
Bersama Mas Antariksa di kantor KUNCI/Anonim.
Bersama teh Herlina P Dewi di kantor Penerbit Stiletto/Anonim.

Malam Minggu, menjelang kepulangan saya ke Jakarta, saya sengaja datang ke bedah buku Para Raja dan Revolusi karya teh Linda Christanty. Di samping ingin bertemu salah seorang penulis favorit saya itu, saya juga ingin menemui editor penerbit lainnya. Setelah berbincang, saya berjanji akan menyelesaikan naskah baru untuk penerbit itu pada 2017. Meski saya sampai saat ini masih berjuang untuk menuntaskannya.

Bersama teh Linda Christanty setelah bedah buku barunya di Togamas, Yogyakarta/Eko Triyono.
Menuntaskan kerja yang belum selesai/Fandy Hutari

2016 ini, kontrak saya pun sudah habis dengan salah satu penerbit yang menerbitkan buku Sandiwara dan Perang. Di 2017 nanti, saya memiliki rencana besar untuk buku saya itu. Membuka kemungkinan lain, penerbitan di luar negeri.

Saya tak pernah tahu apa yang akan terjadi pada karier saya dan kerja-kerja literasi saya di tahun 2017 nanti. Saat ini, yang bisa saya lakukan adalah memenuhi utang naskah untuk sebuah penerbitan di Yogyakarta tadi, dan bekerja sebaik-baiknya.

Saya tak akan melupakan jasa orang-orang baik selama tahun 2016. Begitu pula, saya tak akan melupakan kenangan buruk di 2016. Selamat Tahun Baru.

Palmerah, Jakarta Barat

30 Desember 2016.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY