“Nenek
moyangku, orang pelaut/Gemar mengarung luas samudra/Menerjang ombak tiada
takut/Menempuh badai sudah biasa…”
moyangku, orang pelaut/Gemar mengarung luas samudra/Menerjang ombak tiada
takut/Menempuh badai sudah biasa…”
Penggalan lirik lagu Nenek
Moyangku tadi, sepertinya bukan lirik lagu yang dibuat sembarangan, tanpa
makna. Robert Dick-Read, dalam bukunya berjudul PenjelajahBahari; Pengaruh Peradaban Nusantara di Afrika (2008) menulis,
“pelaut-pelaut Indonesia datang ke Afrika pada masa lampau, jauh sebelum bangsa
Eropa mengenal Afrika selain gurun Saharanya, dan jauh sebelum bangsa Arab dan
Shirazi berlayar mengarungi laut lepas…” (7: 2008).
Moyangku tadi, sepertinya bukan lirik lagu yang dibuat sembarangan, tanpa
makna. Robert Dick-Read, dalam bukunya berjudul PenjelajahBahari; Pengaruh Peradaban Nusantara di Afrika (2008) menulis,
“pelaut-pelaut Indonesia datang ke Afrika pada masa lampau, jauh sebelum bangsa
Eropa mengenal Afrika selain gurun Saharanya, dan jauh sebelum bangsa Arab dan
Shirazi berlayar mengarungi laut lepas…” (7: 2008).
![]() |
| Kapal Pinisi teronggok di dermaga Sunda Kelapa. Foto: Fandy Hutari. |
Suku-suku,
seperti Bajo, Bugis, Mandar, dan Makassar disebut Robert sebagai pelaut-pelaut
ulung yang diduga paling mungkin terlibat dalam pelayaran ke Madagaskar dan
pantai Afrika. Robert menulis, ada hubungan kuat pengaruh Indonesia di Afrika
dalam hal musik dan pertanian. Alat musik bambu Afrika memiliki kemiripan
dengan alat-alat musik Asia Tenggara, seperti xylophone yang terdapat di relief
candi Borobudur. Di bidang pertanian, pisang raja dan ubi jalar diduga
diperkenalkan orang-orang Indonesia ke Afrika. Demikian juga tanaman jagung
yang berasal dari Amerika Tengah, mula-mula dibawa pulang oleh penjelajah Asia,
baru kemudian dikenalkan oleh pelaut Indonesia ke Afrika. Bahkan pelaut
Indonesia diduga telah mengelilingi Semenanjung Harapan dan berlayar ke Afrika
Barat. Setelah perjalanan yang penuh keberanian dari replika “perahu Borobudur”
pada 2004, tak ada lagi keraguan bahwa mereka mampu melakukannya.
seperti Bajo, Bugis, Mandar, dan Makassar disebut Robert sebagai pelaut-pelaut
ulung yang diduga paling mungkin terlibat dalam pelayaran ke Madagaskar dan
pantai Afrika. Robert menulis, ada hubungan kuat pengaruh Indonesia di Afrika
dalam hal musik dan pertanian. Alat musik bambu Afrika memiliki kemiripan
dengan alat-alat musik Asia Tenggara, seperti xylophone yang terdapat di relief
candi Borobudur. Di bidang pertanian, pisang raja dan ubi jalar diduga
diperkenalkan orang-orang Indonesia ke Afrika. Demikian juga tanaman jagung
yang berasal dari Amerika Tengah, mula-mula dibawa pulang oleh penjelajah Asia,
baru kemudian dikenalkan oleh pelaut Indonesia ke Afrika. Bahkan pelaut
Indonesia diduga telah mengelilingi Semenanjung Harapan dan berlayar ke Afrika
Barat. Setelah perjalanan yang penuh keberanian dari replika “perahu Borobudur”
pada 2004, tak ada lagi keraguan bahwa mereka mampu melakukannya.
Salah
satu suku di Indonesia yang dikenal sebagai pelaut ulung adalah suku Bugis di
Sulawesi Selatan. Jika berbicara tentang suku Bugis dan laut, pasti kapal
Pinisi akan terlintas langsung di benak kita. Menurut situs wikipedia.org,
kapal Pinisi telah digunakan di Indonesia sejak beberapa abad yang lalu,
diperkirakan sudah ada sebelum tahun 1500-an. Menurut naskah Lontarak I Babad La Lagaligo pada abad
ke-14, Pinisi pertama kali dibuat oleh Sawerigading, Putra Mahkota Kerajaan
Luwu untuk berlayar menuju negeri Tiongkok hendak meminang Putri Tiongkok yang
bernama We Cudai.
satu suku di Indonesia yang dikenal sebagai pelaut ulung adalah suku Bugis di
Sulawesi Selatan. Jika berbicara tentang suku Bugis dan laut, pasti kapal
Pinisi akan terlintas langsung di benak kita. Menurut situs wikipedia.org,
kapal Pinisi telah digunakan di Indonesia sejak beberapa abad yang lalu,
diperkirakan sudah ada sebelum tahun 1500-an. Menurut naskah Lontarak I Babad La Lagaligo pada abad
ke-14, Pinisi pertama kali dibuat oleh Sawerigading, Putra Mahkota Kerajaan
Luwu untuk berlayar menuju negeri Tiongkok hendak meminang Putri Tiongkok yang
bernama We Cudai.
Jejeran
kapal Pinisi merapat di bibir dermaga Pos 1 Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta
Utara, pagi itu (4/3). Terik matahari tak membuat para kuli panggul membawa
karung-karung semen di pundaknya menjadi lemah.
Truk-truk boks dan pick up besar ada yang berbaris di pinggiran dermaga,
persis di sebelah kapal Pinisi yang bersandar. Beberapa anak buah kapal sibuk
melakukan aktivitas bongkar-muat barang dan melakukan perbaikan badan kapal. Anak
buah kapal yang bertugas memperbaiki badan kapal itu berjumlah sekitar lima
orang.
kapal Pinisi merapat di bibir dermaga Pos 1 Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta
Utara, pagi itu (4/3). Terik matahari tak membuat para kuli panggul membawa
karung-karung semen di pundaknya menjadi lemah.
Truk-truk boks dan pick up besar ada yang berbaris di pinggiran dermaga,
persis di sebelah kapal Pinisi yang bersandar. Beberapa anak buah kapal sibuk
melakukan aktivitas bongkar-muat barang dan melakukan perbaikan badan kapal. Anak
buah kapal yang bertugas memperbaiki badan kapal itu berjumlah sekitar lima
orang.
Kapal-kapal Pinisi
itu berbahan dasar kayu. Kayu-kayu perahu yang sudah merenggang diperbaiki
dengan palu dan beberapa peralatan lain. Selain itu, mereka juga sibuk
menambalnya dengan bahan serupa semen putih. Tangan-tangan mereka piawai,
berpindah dari kayu yang sudah rapuh ke kayu lainnya. Usman adalah salah
seorang anak buah kapal Pinisi, yang juga sibuk memperbaiki kapalnya. Bersama
tiga temannya, dia sedang sibuk membetulkan badan salah satu perahu pinisi di
yang merapat di bibir dermaga. “Lagi dibaguskan supaya jangan bocor dan
masuk air,” katanya. Usman baru dua bulan bekerja memperbaiki perahu.
Untuk memperbaiki badan kapal, menurutnya, harus rutin setiap satu bulan atau
dua bulan sekali. Bayaran untuk perbaikan
kapal, kata Usman, tak menentu. “Untuk perbaikan ini honornya tidak tentu.
Bagi hasil saja,” katanya, saat sibuk memalu beberapa titik di badan kapal.
Honor ini berbeda dengan bayaran mereka sebagai anak buah kapal. Namun, menurut
pria asal Bone, Sulawesi Selatan ini, bayaran untuk perbaikan badan kapal berbeda dengan gajinya sebagai
anak buah kapal. “Kalau gaji (anak buah kapal) ya paling sebulan 2
juta.” Usman menjadi anak buah kapal sejak tahun 1980-an. “Satu kapal
ada 8 orang (anak buah kapal),” katanya.
itu berbahan dasar kayu. Kayu-kayu perahu yang sudah merenggang diperbaiki
dengan palu dan beberapa peralatan lain. Selain itu, mereka juga sibuk
menambalnya dengan bahan serupa semen putih. Tangan-tangan mereka piawai,
berpindah dari kayu yang sudah rapuh ke kayu lainnya. Usman adalah salah
seorang anak buah kapal Pinisi, yang juga sibuk memperbaiki kapalnya. Bersama
tiga temannya, dia sedang sibuk membetulkan badan salah satu perahu pinisi di
yang merapat di bibir dermaga. “Lagi dibaguskan supaya jangan bocor dan
masuk air,” katanya. Usman baru dua bulan bekerja memperbaiki perahu.
Untuk memperbaiki badan kapal, menurutnya, harus rutin setiap satu bulan atau
dua bulan sekali. Bayaran untuk perbaikan
kapal, kata Usman, tak menentu. “Untuk perbaikan ini honornya tidak tentu.
Bagi hasil saja,” katanya, saat sibuk memalu beberapa titik di badan kapal.
Honor ini berbeda dengan bayaran mereka sebagai anak buah kapal. Namun, menurut
pria asal Bone, Sulawesi Selatan ini, bayaran untuk perbaikan badan kapal berbeda dengan gajinya sebagai
anak buah kapal. “Kalau gaji (anak buah kapal) ya paling sebulan 2
juta.” Usman menjadi anak buah kapal sejak tahun 1980-an. “Satu kapal
ada 8 orang (anak buah kapal),” katanya.
Tiga
orang nakhoda kapal tengah istirahat di sebuah warung kecil, tak jauh dari jejeran
kapal tadi. “Si bos itu di sana,” tunjuk Usman, memberi tahu tempat istirahat
para nakhoda kapal. Sudading tengah sibuk menelepon dan berbicara dalama bahasa
daerah. Tiga rekan lainnya, sibuk berdiskusi. Setelah telepon selulernya
ditutup, pria 52 tahun ini berkisah soal perahu Pinisi. “Jadi ini perahu
berasal dari Sulawesi (Selatan). Dibikin di Batu Licin, Banjarmasin, Kalimantan
Selatan. Kayunya kayu ulin. Bisa tahan sampai 40 tahun lebih. Ini ciri khas perahu
Bugis,” katanya. Sudading juga berasal dari Sulawesi Selatan. Sudading
mengakui, memang mayoritas yang bekerja sebagai nakhoda dan anak buah kapal
adalah orang Bugis. “Di sini ada 90 persen lah orang Bugis semua,”
katanya.
orang nakhoda kapal tengah istirahat di sebuah warung kecil, tak jauh dari jejeran
kapal tadi. “Si bos itu di sana,” tunjuk Usman, memberi tahu tempat istirahat
para nakhoda kapal. Sudading tengah sibuk menelepon dan berbicara dalama bahasa
daerah. Tiga rekan lainnya, sibuk berdiskusi. Setelah telepon selulernya
ditutup, pria 52 tahun ini berkisah soal perahu Pinisi. “Jadi ini perahu
berasal dari Sulawesi (Selatan). Dibikin di Batu Licin, Banjarmasin, Kalimantan
Selatan. Kayunya kayu ulin. Bisa tahan sampai 40 tahun lebih. Ini ciri khas perahu
Bugis,” katanya. Sudading juga berasal dari Sulawesi Selatan. Sudading
mengakui, memang mayoritas yang bekerja sebagai nakhoda dan anak buah kapal
adalah orang Bugis. “Di sini ada 90 persen lah orang Bugis semua,”
katanya.
Jumlah nakhoda di Pelabuhan Sunda Kelapa sendiri, kata Sudading, ada
sekitar 200 orang. Kapal-kapal ini
memiliki nama masing-masing yang ditulis dengan cat di badannya. Ada yang
bernama Sumber Rejeki, ada pula Berkat Syafinatussalam. Perahu-perahu yang saat
ini ada, kata Sudading, disebut kapal layar motor (KLM). “ini dibikin pada
tahun 1973. Jadi baru ada mesin. Sebelum itu pakai layar.” Tahun 1980-an,
perahu-perahu Pinisi ini, kata Sudading sudah mesin semua. Sebelumnya, masih
pakai layar, tanpa mesin. Sudading berlayar dengan Pinisi sejak 1970.
“Waktu itu masih pakai layar,” katanya. Perbedaan sebelum ada mesin
dan sesudahnya, kata Sudading, berhubungan dengan waktu tempuh. “Kalau
tidak pakai mesin, dari sini (Jakarta) sampai Pontianak bisa sebulan. Ada mesin
ya 3 hari 3 malam,” kata ayah dua anak ini. Tugas Sudading mengantarkan
bahan bangunan, seperti semen, lalu terigu, beras, dan pupuk. Sama seperti
tugas para nakhoda atau perahu Pinisi lainnya. Namun, mereka mengantar
barang-barang ini hanya di wilayah Indonesia. “Ke seluruh Indonesia saja
mengantarnya,” kata nakhoda perahu bernama Sinar Abadi ini. Gajinya
menjadi nakhoda Rp 7 juta sebulan.
sekitar 200 orang. Kapal-kapal ini
memiliki nama masing-masing yang ditulis dengan cat di badannya. Ada yang
bernama Sumber Rejeki, ada pula Berkat Syafinatussalam. Perahu-perahu yang saat
ini ada, kata Sudading, disebut kapal layar motor (KLM). “ini dibikin pada
tahun 1973. Jadi baru ada mesin. Sebelum itu pakai layar.” Tahun 1980-an,
perahu-perahu Pinisi ini, kata Sudading sudah mesin semua. Sebelumnya, masih
pakai layar, tanpa mesin. Sudading berlayar dengan Pinisi sejak 1970.
“Waktu itu masih pakai layar,” katanya. Perbedaan sebelum ada mesin
dan sesudahnya, kata Sudading, berhubungan dengan waktu tempuh. “Kalau
tidak pakai mesin, dari sini (Jakarta) sampai Pontianak bisa sebulan. Ada mesin
ya 3 hari 3 malam,” kata ayah dua anak ini. Tugas Sudading mengantarkan
bahan bangunan, seperti semen, lalu terigu, beras, dan pupuk. Sama seperti
tugas para nakhoda atau perahu Pinisi lainnya. Namun, mereka mengantar
barang-barang ini hanya di wilayah Indonesia. “Ke seluruh Indonesia saja
mengantarnya,” kata nakhoda perahu bernama Sinar Abadi ini. Gajinya
menjadi nakhoda Rp 7 juta sebulan.
![]() |
| Ruang kemudi perahu Pinisi. Foto: Fandy Hutari. |
Sudading
menambahkan, untuk gaji ini berbeda-beda tiap nakhoda. “Sistemnya bagi
hasil bukan gaji. Kalau yang bawa (perahu) lebih besar, ya gajinya lebih
besar,” katanya. Namun, gaji ini sistem bagi hasil dengan syahbandar
pelabuhan. Menurutnya, mengendalikan perahu Pinisi ini tidak sembarang orang.
“Besar bodi daripada mesin, jadi harus diatur. Orang Bugis yang ngerti,
soalnya perahu Bugis.”
menambahkan, untuk gaji ini berbeda-beda tiap nakhoda. “Sistemnya bagi
hasil bukan gaji. Kalau yang bawa (perahu) lebih besar, ya gajinya lebih
besar,” katanya. Namun, gaji ini sistem bagi hasil dengan syahbandar
pelabuhan. Menurutnya, mengendalikan perahu Pinisi ini tidak sembarang orang.
“Besar bodi daripada mesin, jadi harus diatur. Orang Bugis yang ngerti,
soalnya perahu Bugis.”
Sudading
bilang, untuk jadi nakhoda ada pendidikannya selama 6 bulan di Tanjung Priok,
Jakarta. “Kita ini di laut ilmu pasti. Ada hitung-hitungannya. Ijazahnya
namanya mualim pelayaran rakyat.” Penamaan perahu-perahu tadi juga ada
prosedur khusus dari syahbandar. Perawatan perahu kata Sudading agak sulit.
“Tapi kita sudah paham. Rutin sebulan sekali,” katanya.
bilang, untuk jadi nakhoda ada pendidikannya selama 6 bulan di Tanjung Priok,
Jakarta. “Kita ini di laut ilmu pasti. Ada hitung-hitungannya. Ijazahnya
namanya mualim pelayaran rakyat.” Penamaan perahu-perahu tadi juga ada
prosedur khusus dari syahbandar. Perawatan perahu kata Sudading agak sulit.
“Tapi kita sudah paham. Rutin sebulan sekali,” katanya.
Saya
kemudian naik ke atas perahu Pinisi bernama Berkat Syafinatussalam. Tak ada
tangga khusus yang menghubungkan geladak dan daratan. Hanya kayu tebal yang
miring, tanpa pegangan untuk tangan. Jika Anda meleset saat mendaki kayu itu,
alamat Anda akan tercebur ke laut. Perahu Berkat Syifatussalam cukup besar. Di
bagian anjungan perahu, ada sekat-sekat kamar. Di sebelahnya terdapat sebuah
dapur kecil. Di tengah ruang ini, terdapat anak tangga kayu menuju ruang
nakhoda kapal yang berwarna hijau.
kemudian naik ke atas perahu Pinisi bernama Berkat Syafinatussalam. Tak ada
tangga khusus yang menghubungkan geladak dan daratan. Hanya kayu tebal yang
miring, tanpa pegangan untuk tangan. Jika Anda meleset saat mendaki kayu itu,
alamat Anda akan tercebur ke laut. Perahu Berkat Syifatussalam cukup besar. Di
bagian anjungan perahu, ada sekat-sekat kamar. Di sebelahnya terdapat sebuah
dapur kecil. Di tengah ruang ini, terdapat anak tangga kayu menuju ruang
nakhoda kapal yang berwarna hijau.
Nuruddin (47) merupakan
anak buah kapal yang bertugas menjaga mesin perahu Pinisi saat berjalan. Saat
saya temui, Nuruddin sedang beristirahat di salah satu sekat kamar. Untuk
beristirahat, anak buah kapal ini disediakan beberapa sekat kamar kecil di
ruangan anjungan tengah kapal. Pria yang rambutnya sudah dipenuhi uban ini
bercerita, penghasilannya tidak menentu. “Sebulan setengah kira-kira baru
dapat gaji. Tiga juta. Satu kali bolak-balik. Yang dibawa semen sama
arang,” katanya. Selain dari Sulawesi Selatan, katanya ada juga anak buah
kapal yang berasal dari Cirebon dan Tegal. “Tapi mayoritas Sulawesi,”
katanya.
anak buah kapal yang bertugas menjaga mesin perahu Pinisi saat berjalan. Saat
saya temui, Nuruddin sedang beristirahat di salah satu sekat kamar. Untuk
beristirahat, anak buah kapal ini disediakan beberapa sekat kamar kecil di
ruangan anjungan tengah kapal. Pria yang rambutnya sudah dipenuhi uban ini
bercerita, penghasilannya tidak menentu. “Sebulan setengah kira-kira baru
dapat gaji. Tiga juta. Satu kali bolak-balik. Yang dibawa semen sama
arang,” katanya. Selain dari Sulawesi Selatan, katanya ada juga anak buah
kapal yang berasal dari Cirebon dan Tegal. “Tapi mayoritas Sulawesi,”
katanya.
Ahmad
(46) adalah nakhoda kapal Pinisi Berkat Syafinatussalam. Tempat Nuruddin dan
beberapa anak buah kapal “bernaung.” Pria tegap itu mengajak saya melihat ruangan
tempat dia mengendalikan kapalnya. Untuk ke “kantornya”, harus menaiki tangga
kayu di ruang depan sekat-sekat kamar. Di ruangan berukuran 4 kali 4 meter itu
terdapat sebuah kemudi besar berwarna cokelat yang menghadap ke depan kapal. Di
sebelah kemudi terdapat dua tuas. “Ini untuk maju. Satunya untuk
netral,” kata Ahmad yang membawa kapal buatan tahun 1983 itu selama 11
tahun.
(46) adalah nakhoda kapal Pinisi Berkat Syafinatussalam. Tempat Nuruddin dan
beberapa anak buah kapal “bernaung.” Pria tegap itu mengajak saya melihat ruangan
tempat dia mengendalikan kapalnya. Untuk ke “kantornya”, harus menaiki tangga
kayu di ruang depan sekat-sekat kamar. Di ruangan berukuran 4 kali 4 meter itu
terdapat sebuah kemudi besar berwarna cokelat yang menghadap ke depan kapal. Di
sebelah kemudi terdapat dua tuas. “Ini untuk maju. Satunya untuk
netral,” kata Ahmad yang membawa kapal buatan tahun 1983 itu selama 11
tahun.
Ahmad lalu berkisah soal
pengalamannya mengendalikan Pinisi di lautan. “Saya mulai bawa kapal sejak
1998,” katanya. Sebelumnya, Ahmad membawa kapal tanker di Pelabuhan
Tanjung Priok. Pengalamannya yang paling berkesan adalah saat melawan badai di
tengah laut. “Kalau masih bisa kita lawan ya jalan, tapi kalau tidak
terpaksa mengikuti arah gelombang,” kata pria yang tinggal di Serang,
Banten ini. Bahkan, dia pernah terjebak selama berhari-hari karena cuaca buruk.
“Kemarin saya sempat berteduh (diam) di Selat Bangka sampai 12 hari,
karena cuaca buruk.” Namun, Ahmad dan anak buah kapalnya sudah menyiapkan
bahan makanan, seperti ikan, untuk disantap jika perjalanan ada halangan. Penghasilannya
jadi nakhoda, aku Ahmad, per bulan tidak sampai 10 juta dengan sistem bagi
hasil. “Ya ini kan saya (perahu) nyewa sama bos. Jadi kaya sopir truk
lah,” kata dia.
pengalamannya mengendalikan Pinisi di lautan. “Saya mulai bawa kapal sejak
1998,” katanya. Sebelumnya, Ahmad membawa kapal tanker di Pelabuhan
Tanjung Priok. Pengalamannya yang paling berkesan adalah saat melawan badai di
tengah laut. “Kalau masih bisa kita lawan ya jalan, tapi kalau tidak
terpaksa mengikuti arah gelombang,” kata pria yang tinggal di Serang,
Banten ini. Bahkan, dia pernah terjebak selama berhari-hari karena cuaca buruk.
“Kemarin saya sempat berteduh (diam) di Selat Bangka sampai 12 hari,
karena cuaca buruk.” Namun, Ahmad dan anak buah kapalnya sudah menyiapkan
bahan makanan, seperti ikan, untuk disantap jika perjalanan ada halangan. Penghasilannya
jadi nakhoda, aku Ahmad, per bulan tidak sampai 10 juta dengan sistem bagi
hasil. “Ya ini kan saya (perahu) nyewa sama bos. Jadi kaya sopir truk
lah,” kata dia.
Selain Pinisi, cukup banyak
kapal-kapal besi yang bersandar di pelabuhan Sunda Kelapa. Mungkin, dibandingkan kapal-kapal berbahan
besi itu, Pinisi terlihat lebih ringkih. Namun, dari hal estetika dan perjalanan
sejarah, Pinisi jelas lebih unggul. Lalu, sampai kapan Pinisi menghiasi
pelabuhan Sunda Kelapa? Pelabuhan yang beroperasi sejak 1527 ini menjadi saksi
napas-napas para kuli angkut, anak buah kapal, dan nakhoda, yang berjuang
mengarungi lautan []
kapal-kapal besi yang bersandar di pelabuhan Sunda Kelapa. Mungkin, dibandingkan kapal-kapal berbahan
besi itu, Pinisi terlihat lebih ringkih. Namun, dari hal estetika dan perjalanan
sejarah, Pinisi jelas lebih unggul. Lalu, sampai kapan Pinisi menghiasi
pelabuhan Sunda Kelapa? Pelabuhan yang beroperasi sejak 1527 ini menjadi saksi
napas-napas para kuli angkut, anak buah kapal, dan nakhoda, yang berjuang
mengarungi lautan []








