Dalam buku Smoke: A GlobalHistory of Smoking disitir bahwa setiap kebudayaan dalam sejarah telah
merokok, baik sebagai obat atau untuk kesenangan, baik sebagai bagian dari
ritual atau sebagai satu aspek dari budaya populer. Merokok, bagi sebagian
manusia di dunia ini, termasuk di Indonesia, sudah menjadi kelaziman
sehari-hari. Berbagai merek rokok lokal maupun impor bisa dengan mudah kita
temui di kios-kios.
Jika berbicara soal rokok, ada satu jenis rokok yang-menurut sebagian
orang-jika kita menghirupnya akan terasa aroma Indonesia yang khas di sana.
Rokok itu dikenal sebagai kretek. Saya ingat, saat bertemu seorang lelaki
berusia lebih dari 80 tahun dan mengirup rokok kreteknya dalam-dalam dia
berujar, “Saya tetap sehat merokok kretek. Dan, saya merasakan aroma khas
Indonesia saat menghirupnya.” Di kampung orangtua saya, Kabupaten Purbalingga,
banyak orangtua yang merokok. Aroma rokok kretek yang mereka hirup terkadang
tercium bau kemenyan.
tanpa filter, yaitu rokok cerutu, klobot ,
dan rokok kretek. Perbedaannya terletak pada pembungkus dari
masing-masing varian tadi. Cerutu menggunakan pembungkus dari tembakau, klobot
menggunakan pembungkus dari daun jagung kering, dan kretek menggunakan
pembungkus dari kertas.
tukang dokar
zaman Roro Mendut. Alkisah, ada seorang putri asal Pati, Jawa Tengah, yang
merupakan istri Tumenggung Wiroguno, salah satu panglima perang Sultan Agung, menjual
rokok yang berbungkus daun jagung kering. Rokok ini dikenal dengan sebutan
rokok klobot. Berdasarkan riset
Petrus Josephus Zoetmulder, seorang budayawan dan pakar sastra Jawa, dalam buku
Kretek Jawa; Gaya Hidup Lintas Budaya (2011)
karangan Rudy Badil, di dalam kitab-kitab lama ada kata udud. Udud sendiri
merupakan kata dasar Bahasa Jawa yang artinya rokok. Jika benar, itu artinya
rokok sudah “dinikmati” masyarakat Jawa sejak lama.
kretek dilakukan secara tidak sengaja oleh Haji Djamari pada akhir abad ke-19.
Syahdan, penduduk Kudus saat itu merasakan sakit di bagian dada. Lalu, Haji
Djamari mengoleskan minyak cengkeh racikannya. Tak disangka, ramuan tadi
membuat rasa sakit di dada itu mereda. Dari peristiwa tadi, Haji Djamari
bereksperimen membuat rokok dari rajangan cengkeh ditambah tembakau. Rokok yang
dibuat Haji Djamari ternyata berkhasiat untuk pengobatan. Hasilnya, rokok
temuan Haji Djamari tadi mendadak dikenal orang dan banyak yang memesannya.
Nama kretek sendiri berasal dari rokok yang mengandung rajangan cengkeh itu
saat dibakar dan diisap, mengeluarkan bunyi “keretek…keretek…keretek”.
kusir dokar, yakni Nitisemito, kretek menjelma menjadi sebuah industri.
Awalnya, Nitisemito kerap berkunjung ke warung Mbok Nasilah, seorang pedagang
rokok klobot di Kudus yang warungnya
kerap dijadikan tempat “nongkrong” para kusir dokar saat itu. Rokok klobot yang juga dicampur cengkeh itu
digemari oleh Nitisemito. Kemudian, Nitisemito menikahi Mbok Nasilah. Perpaduan
mantan pengusaha dan peracik rokok ini menghasilkan sebuah industri yang berprospek.
Rokok kretek menjadi komoditi dagang utama mereka. Rokok Tjap Kodok Mangan Ulo
dipilih sebagai sebuah brand produk
kretek milik mereka. Tapi, karena menjadi bahan tertawaan, akhirnya merek
dagang itu diganti menjadi Tjap Bulatan Tiga atau Bal Tiga. Merek Bal Tiga
sendiri diresmikan pada 1914 I Desa Jati, Kudus.
sempurna. Tercatat, ia mampu membangun pabrik besar di Kudus, memimpin
setidaknya 10.000 pekerja, dan mampu menghasilkan 10 juta kretek setiap
harinya pada 1938. Di masa jayanya, ia memasarkan produknya ke kota-kota di
Sulawesi, Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Belanda. Namun, usaha ini harus
menemui ajalnya juga beberapa tahun kemudian. Bal Tiga runtuh, karena
perselisihan ahli waris Nitisemito. Selain masalah itu, munculnya perusahaan
rokok lain, seperti Nojorono, Djamboe Bol, Djarum, dan Sukun, plus kedatangan
tentara Jepang yang menyita aset perusahaan, semakin memperkeruh kerajaan
kretek Nitisemito.
kretek
ditulis oleh Helmi Y. Haska (2005) Bob Marley bertutur, “Mariyuana terbaik
yang pernah aku hisap, aku dapatkan ketika aku mengadakan pertunjukan di
Jamaika. Sekarang aku merasa itulah yang terbaik yang pernah aku hisap. Aku
tidak pernah mendapatkan yang seperti itu lagi! Itu seperti satu-satunya pohon
yang ada di bumi.”
mungkin saja satu-satunya tempat yang bisa kita sebut saat menikmati kretek
adalah Indonesia. Mark Hanusz, penulis Kretek;The Culture and Heritage of Indonesia’s Clove Cigarettes pun mengakui,
kretek itu tidak ada di AS, tidak ada di Eropa, atau negeri-negeri lain. Hanya
ada di sini, khas Indonesia.
Indonesia, Haji Agus Salim, punya pengalaman juga soal kretek. Saat ia
mewakili Soekarno untuk menghadiri acara penobatan Ratu Elisabeth di Inggris
pada 1953, ia mengisap kretek di tengah perjamuan diplomatik.
kretek itu menggugah seorang diplomat Barat, dan menegurnya, “Tuan mengisap
apa?” Agus Salim menjawab, “Inilah yang membuat nenek moyang Anda sekian abad
lalu dating dan kemudian menjajah negara kami.” Maksud Agus Salim tentu saja
bahan yang ada di dalam kretek, yaitu cengkeh. Cengkeh merupakan rempah yang
menjadi salah satu target kolonialisme bangsa Barat di Asia, termasuk
Indonesia.
kretek memang asli tanaman Indonesia. Tanaman yang punya nama Latin Eugenia aromaticum ini berbentuk tangkai
bunga kering beraroma dari pohon Myrtaceae. Selain sebagai bahan campuran
kretek, cengkeh dimanfaatkan untuk bumbu masakan pedas. Dahulu, cengkeh
menjadi rempah yang diincar oleh penjajah Eropa. Di abad ke-17 dan ke-18 di
Inggris, harga cengkeh setara dengan harga emas.
diolah secara manual oleh tangan-tangan terampil pengrajin—bukan pakai mesin—adalah
cita rasa yang sangat nikmat bagi perokok, terutama yang berjenis cerutu. Bahan
dan cara mengolah ini berbeda dengan rokok yang menggunakan tembakau buatan dan
diolah dengan mesin. Bisa jadi cerutu yang dianggap sebagai rokok asli Kuba itu
terinspirasi dari kretek. Sebab, dari beberapa kitab lama, kretek sudah
dikenal sejak dulu.
“memarginalkan” kretek
serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin,” begitulah pesan
yang tertera di setiap bungkus rokok. Padahal, menilik dari sejarahnya, kretek
diciptakan untuk meredakan sakit. Ada apa ini? Banyak peraturan antirokok yang
diterbitkan pemerintah, banyak kelompok menentang rokok. Kretek, yang notabene
termasuk sakah satu jenis rokok, ikut merasakan dampaknya.
diharamkan oleh ulama. Tapi, ada pula yang memakruhkannya, bahkan
menghalalkannya. Salah satu ulama yang memakruhkan rokok adalah Syekh Ihsan Muhammad
Dahlan al-Jampesi. Ulama asal Kediri yang tinggal lama di Arab ini menyusun
sebuah kitab Irsyad al-Ikhwan fi Syurbati
al-Qahwati wa al-Dukhan. Kitab ini lalu dibukukan dengan judul Kitab Kopi dan Rokok (2009). Kitab ini antara
lain membahasa manfaat kopi dan rokok. Walau demikian, ia berpendapat hukum
makruh untuk rokok tidak tetap. Seandainya seseorang tidak atau berhenti
merokok dan badannya akan sakit atau tidak bias beraktivitas dengan baik, maka
menjadi wajib. Dapat pula berubah menjadi haram, kalau keuangan untuk membeli
rokok itu seharusnya digunakan untuk menafkahi keluarga.
memarginalkan kretek Indonesia. Kretek semakin lama semakin tergusur oleh
pabrik-pabrik rokok filter, mild, dan
rokok putih impor. Di buku Giant Pack ofLies Bongkah Rahasia Kebohongan; Menyorot Kedigdayaan Industri Rokok di Indonesia (2011) salah satunya diungkap ada konspirasi global mematikan
industri kretek Indonesia. World Trade Organization (WTO) atau Organisasi
Perdagangan Dunia dan World Health Organization (WHO) atau
Badan Kesehatan Dunia, di mana Amerika ada di belakangnya, menurut buku ini
merupakan dalangnya. Buktinya, kebijakan antitembakau sukses, namun impor
tembakau makin meningkat. Selain itu, ada dua raksasa rokok dunia asal Amerika
yang mencaplok dua perusahaan rokok besar Indonesia. Sampoerna pada 2005
dicaplok Philips Morris, dan Bentoel diakuisisi British American Tobacco pada
2009.
Indonesia pada 2009 lalu, dan hanya melegalkan rokok beraroma menthol yang
merupakan produknya, dengan alasan kretek mengandung zat adiktif cengkeh.
Sebuah kebijakan yang terlihat diskriminatif dan penuh tanda tanya. Setelah
Amerika, beberapa negara lain juga menerapkan kebijakan memperketat impor
kretek, seperti Brazil, Australia, dan Selandia Baru. Ada pula cara lain untuk
mematikan kretek, yaitu ketentuan batas TAR. Ini mewajibkan pengurangan
kandungan cengkeh di dalam kretek. Artinya, perusahaan besar yang melibatkan
tenaga kerja banyak dan memanfaatkan mesin, seperti perusahaan mild dan rokok putih ini diuntungkan.
tradisi Indonesia. Hanya diproduksi di negeri ini. Mantan Menteri Keuangan,
Fuad Bawazier, pernah mengatakan hanya industri rokok kretek yang mampu
bertahan dari serangan rokok putih, karena di industri lain dengan mudah mampu
dikuasai oleh kekuatan neoliberalisme. Beberapa pihak menyarankan agar kretek
dipatenkan sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia, seperti batik, wayang,
dan tari saman yang diakui oleh United Nations Educational, Scientific, and
Cultural Organization (UNESCO).
membicarakan rokok an sich. Tapi juga
membicarakan budaya, kehidupan sosial, ekonomi, sejarah, konspirasi global, dan
manusia Indonesia.







waaah keren maaaas. ayo ramaii-ramai kita suarakan Museum untuk Rokok Indonesia
Pasti di gerbangnya ada tulisan peringatan pemerintah 🙂