Artis-artis masa Hindia Belanda, tak hanya pandai menghibur. Beberapa di antaranya malah ikut bersimpati dengan gerakan kemerdekaan, yang diinisiasi sejumlah tokoh nasional. Dalam buku Ramadhan KH,Gelombang Hidupku, Dewi Dja dari Dardanella, dikisahkan primadona rombongan tonil (sandiwara) Dardanella, Dewi Dja, pimpinan Dardanella yang orang Rusia, A. Piedro sangat hormat terhadap perjuangan Soekarno dan kawan-kawannya.
Terkait tertangkapnya Soekarno dan sejumlah tokoh pergerakan pada 1930, Piedro pernah berujar kepada anggota Dardanella, Astaman, “Perjuangan tak akan berhenti. Biar ia ditangkap sekalipun, perjuangan kemerdekaan ini tak akan berhenti. Pasti ada yang melanjutkan.”
Sejumlah artis lain pun menaruh simpati kepada perjuangan kemerdekaan. Ada pula yang mengungkapkannya lewat sebuah lagu. Penulis Hariyadi Suadi pernah menulis di Pikiran Rakyat dengan judul “Biduan Nirom Surabaya Dicari Pelawak Chaplin” bahwa penyanyi keroncong tenar pada 1930-an, S. Abdullah, mengangkat lagu-lagu bertema kepedulian kepada rakyat miskin, pembelaan nasib kaum perempuan, dan perhatian terhadap penganggur.
S. Abdullah juga membawakan lagu yang secara halus menyiratkan kemerdekaan dari Belanda. Karena lagu-lagunya itu, tulis Haryadi, S. Abdullah dianggap sebagai musisi yang berhasil mengangkat derajat keroncong.
Ratna Asmara, mantan anggota Dardanella, juga pernah menyanyikan lagu yang liriknya mungkin agak membuat telinga penjajah sakit. Judul lagu itu “Tanah Airkoe Indonesia”.

Menurut majalah Pertjatoeran Doenia dan Film edisi Februari 1942, lagu ini dinyanyikan kali pertama saat rekaman untuk pelat gramofon label His Master’s Voice (HMV) di Singapura. Lagu itu berasal dari ide Fred Belloni. Menurut Japi Tambajong dalam Ensiklopedi Musik jilid I, Belloni adalah pemimpin orkestra dan komponis di Batavia. Ia berdarah Eropa-Asia.
Pertjatoeran Doenia dan Film edisi Februari 1942 menyebut, Belloni bertemu suami Ratna Asmara-seorang mantan wartawan, penulis drama, dan sutradara film-Andjar Asmara di Medan.
Liriknya kemudian disempurnakan Andjar pada 1938. Proses rekaman berlangsung di studio HMV di Singapura pada 1938. Menurut majalah ini, lagu tersebut sudah mulai dikumandangkan sejak 1931, melalui pementasan Dardanella. Saat melakukan perekaman, Andjar menjabat sebagai manajer rekaman HMV perwakilan Indonesia. Pada 1938 Andjar dan Ratna keluar dari Bolero, kemudian bekerja untuk HMV.

Lagu tersebut direkam berbarengan dengan sejumlah lagu, seperti “Terang Boelan di Malaya”, “Nasib Perempoean”, dan “Sebatang Kara”. Dalam rekaman ini, Subardi, mantan pemain terompet Dardanella dilibatkan.
Pertjatoeran Doenia dan Film menulis, lagu ini diperdengarkan di radio saban malam. Sejauh pengetahuan saya, tak ada intimidasi apapun ketika Ratna Asmara menyanyikan lagu tersebut. Memang cukup aneh melihat penjelasan majalah Pertjatoeran Doenia dan Film, yang menyebut lagu itu direkam pada 1938. Namun, mengapa beritanya baru diturunkan pada 1942?
Dugaan saya, kemungkinan rekamannya dalam bentuk pelat gramofon baru beredar pada awal 1942. Lagunya pun juga baru dikumandangkan di tahun tersebut. Di masa itu, Belanda sudah kian terdesak oleh Jepang. Posisinya melemah, sebelum Jepang akhirnya benar-benar mendarat di Jawa pada Maret 1942.
Berikut ini lirik lagu
“Tanah Airkoe Indonesia”
Tanah airkoe jang koetjinta
Tempat toempah darahkoe Indonesia
O, tanah airkoe jang koedjoendjoeng, koemoeliakan, koekasihi
Jang koekenang sehingga mati
Bergoenoeng, berboekit, berpantai
Bergoenoeng, berboekit, berpantai
O, tanah airkoe Indonesia.
—
Artikel ini dimuat pertama kali di Musiclife Qubicle.id, Agustus 2017.






