Pada 9 Maret 1903 pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, Wage Rudolf Soepratman dilahirkan. Tanggal tersebut kemudian dikukuhkan sebagai Hari Musik Nasional pada 2013, melalui Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2013. Saya tak akan membicarakan soal sejarah Hari Musik Nasional itu. Namun, saya ingin sedikit bernostalgia di sini. Mengingat lagu-lagu yang masih terngiang hingga kini.
Tentu saja, setiap orang pasti memiliki lagu yang selalu diingatnya seumur hidup. Saya sendiri, memiliki beberapa lagu yang mungkin melekat erat dalam pikiran, hingga ajal nanti.
Sewaktu kecil, ayah terkadang menyempatkan membeli kaset untuk diputar dan didengar di radio, yang ada di ruang tamu rumah kami dahulu. Saya ingat beberapa lagu yang diputar ayah. Saat itu, saya masih duduk di bangku SD. Beberapa lagu yang saya ingat, antara lain lagu karya almarhum Arie Wibowo “Madu dan Racun” dan “Kodokpun Ikut Menyanyi”.
Dua lagu ini sempat booming pada awal 1990-an. “Madu dan Racun” sendiri dinyanyikan pertama kali oleh Arie Wibowo dan grup musik Bill & Brod pada 1985. Satu tahun setelah saya lahir. Lagu “Kodokpun Ikut Menyanyi” beredar pada 1987. Lagu ini menjadi judul album Bill & Brod juga, sama halnya dengan “Madu dan Racun.”
Kabarnya, lagu “Madu dan Racun” ini merupakan hasil “sulapan” lagu “Bingung” yang diciptakan pada 1975. Terlepas dari itu, lagu “Madu dan Racun” akhirnya dijiplak pula oleh beberapa negara tetangga.
“Madu di tangan kananmu. Racun di tangan kirimu. Aku tak tau mana yang akan kau berikan padaku….”
Selain dua lagu tadi, ayah kerap memutar lagu-lagu dewasa milik almarhum Pance Pondaag dan Betharia Sonatha. Saya tak ingat judul lagu sedih mendayu-dayu milik almarhum Pance. Namun, saya ingat sekali alunan lagu milik Betharia. Lagu yang berjudul “Hati yang Luka” itu masih terdengar dan kerap diputar orang hingga kini. Lagu tersebut sama seperti judul albumnya, keluar pertama kali pada 1987. Penciptanya adalah Obbie Messakh.
Saya juga ingat, suatu malam, ayah membeli kaset grup musik yang kocak, Pengantar Minum Racun (PMR). Grup musik orkes dangdut yang banyak memasukan unsur humor di dalam lagu-lagunya ini booming pada akhir 1980-an. Anggotanya, antara lain Jhonny Iskandar (vokal), Boedi Padukone (gitar), Yuri Mahippal (mandolin), Imma Maranaan (bass), Ajie Cetti Bahadur Syah (perkusi) dan Harri “Muke Kapur” (mini drum). Lagunya, yang masih terngiang di telinga saya hingga kini, antara lain “Judul-Judulan” dan “Bintangku Bintangmu”.
“Bintang virgo….Sekolah tapi masih bodoh. Bintang scorpio….Suka nonton pilm porno. Bintang libra…Suka lirik mbak mbak. Bintang sagitario….Suka makan laler ijo….”
Jauh sebelum grup musik ini ada, pada dekade 1970-an, sudah ada grup orkes sejenis, yakni Pancaran Sinar Petromaks (PSP). Lantas, grup musik PMR ini mengilhami grup musik yang berdiri pada 2000-an, seperti Kornchonk Chaos dan Pemuda Harapan Bangsa. Kalau di kampus saya ada Kembang Kehidupan.
Itu tadi beberapa lagu dan penyanyi yang masih saya ingat. Kenang-kenangan dari masa lalu. Kamu sendiri ingatnya lagu apa?






